Percayalah!
Halo... ini adalah cerpen asli hasil saya melamun selama beberapa hari kemarin, ya itung-itung ngilangin bete karena libur kuliah lah...
saya sadar di dalamnya masih terdapat typo, ngawur, tanda bacanya gak tepat, alurnya ngaco dan mungkin gak enak dibaca... karena itu saya saranin bagi yang gak suka dengan cerpen buatan saya, lebih baik tinggalkan laman ini. tapi bagi yang penasaran dengan cerita ini mangga dibaca...
semoga reader suka
dan
Selamat Membaca!
~Capter 1~
Disebuah kamar
yang sederhana dengan berisi barang-barang yang cantik layaknya kamar seorang
gadis remaja, terlihat wanita yang sedang tertidur lelap. Begitu damai
tergambar dari pancaran wajahnya, namun dia harus terusik oleh panggilan merdu seorang
wanita cantik yang diperkirakan berusia berkepala empat dan wajahnya mirip
dengan wanita yang sedang tertidur itu.
“Hasu sayang
bangun, lihatlah! Hari sudah menjelang pagi. Bukankah kamu belum shalat subuh
dan harus berangkat sekolah?” suara lembutnya terngiang ditelinga wanita yang
dipanggil Hasu tersebut.
“Mmm…”
gumamnya yang terlihat belum sadar dari tidur lelapnya.
“Ayolah,
bangun Hasu!” kaasannya terus berusaha untuk membangunkan wanita yang
dipanggilnya Hasu. Dari mulai mengusap rambut, mencubit pipi sampai meniup
telinganya namun tetap saja hasu tak bergeming sedikitpun. Dan kali ini kaasannya
membangunkan dengan cara berteriak disebelah kuping Hasu.
“Hhh, (menarik
napas dalam-dalam). HASU MIZUMI….” Teriakan itu sangat keras hingga menggetarkan
kamar tersebut dan sukses membangunkan Hasu dari tidur lelap dengan tidak
elitnya.
“Ada apa… ada
apa… di sini Hasu Mizumi siap membantu anda”. Hasu yang terperanjat kagetpun
langsung duduk tegap dan berkata yang tidak jelas membuat kaasannya cengok
seketika.
“kamu ini,
kapan dapat menghilangkan kebiasaan burukmu bicara gak jelas seperti itu sih?
Haduh… ayo cepat bangun!”. Kaasan menatap bosan anaknya dengan berdecak
pinggang.
“Huaahh…
kaasan memang ini jam berapa sih? Paling juga masih jam empat pagi”. Ucapnya
sambil kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur.
“Oh, benar
sekali sekarang masih jam empat pagi, coba saja kau lihat jam itu”. Tunjuknya
ke arah jam yang ada di atas dinding yang bercat warna biru muda. Dan kaasan
kembali berdecak pinggang dengan mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai. Lalu Hasu
pun mengikuti perkataan kaasannya untuk melihat ke arah jam dinding itu.
“Baiklah, akan
aku buktikan kaasan. (Hasu pun melirik dengan wajah masih ngantuk). Tuh kan
masih jam empaa-,” perkataannya berhenti setelah sadar bahwa jam itu tidak
beres.
“…”
“Loh, kaasan
kenapa jamnya kecepetan. Harusnya kan masih jam empat, tapi kenapa sekarang
sudah jam setengah enam ya?” kata Hasu dengan polosnya. Karena itu, timbullah
perempatan di dahi kaasan yang berkedut karena menahan kesal.
“Hasu, dari
tadi juga jamnya normal. Kamu saja yang bermasalah, (ucapnya pelan sekali dan
berhenti untuk mengambil napas). SEKARANG MEMANG SUDAH JAM SETENGAH ENAM, DAN
SEKARANG JUGA KAMU CEPAT KE KAMAR MANDI… hah, hah, hah”. Sudah habislah kesabaran
kaasan dengan meluapkan kekesalannya. Dan hal itu menyebabkan hasu lari
tergesa-gesa ke kamar mandi, alih-alih tepat sasaran dia malah mencium tembok
yang tidak bersalah. Hasu pun mengusap dahinya dan bergumam tak jelas. Lagi-lagi kaasannya hanya bisa menggelengkan
kepala melihat kecerobohan anaknya.
“Sudahlah,
kaasan tunggu kamu di ruang makan bersama yang lainnya. Cepat menyusul ya!”
kaasan pun berlalu meninggalkan kamar itu, setelah melihat anggukan Hasu. Dan
hasu berjalan ke kamar mandi masih dengan mengusap dahinya.
***
Di ruang makan.
Berkumpulah
keluarga kecil di sebuah meja unik zaman dahulu dilihat dari ukiran yang
terdapat di meja tersebut. Meja itu berbentuk segi pangang, dua kursi yang
saling berhadapan di sisi yang pendek dan empat kursi yang berhadapan di sisi
yang lebih panjang. Di atas meja tersaji makanan yang ala kadarnya keluarga
sederhana, namun jangan salah rasanya ala resto yang tak kalah lezatnya.
Siapapun yang menyicipinya akan merasa ketagihan yang luar biasa. Setidaknya
itulah pendapat dari anak perempuan yang berusia belasan tahun, karena
menurutnya tidak ada pasakan yang lebih enak dari kaasan tercintanya.
“Waahh…
masakan kaasan memang yang paling T.O.P B.G.T, selalu memancing gairahkan
makanku, MARI MAK-.”
Belum sempat mengambil makanan
secuilpun tangan anak perempuan itu sudah dipukul oleh kaasannya.
“Nanti
dulu sachi, tunggu nechanmu dulu. Jangan seenaknya ambil makan langsung hap.”
“Huh,
kaasan pelit. Lagi pula nechan lama banget di kamarnya. Aku kan lapar
kaasan.” Sachi melipat tangan di depan
dadanya dengan raut muka cemberut.
“Sabar
sayang, nanti nechan sebentar lagi keluar kamarnya.” Ucap kaasan sambil
mengusap rambut sachi.
“NECHAN
CEPETAN DONK…” Teriak Sachi.
“Bawel…
aku udah ada di sini kali.” Hasu keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri
Sachi, diapun memukul kening adiknya itu.
“Aww…
nechan sakit tahu… Kaasan tuh kan neechan nyebelin banget.” Muka Sachi pun
tambah ditekuk saja.
“Hasu, jangan
mulai lagi sayang. Ayo makan, nanti cepat berangkat.” Kaasan menasihati.
“Baik kaasan.”
Jawab mereka serentak.
Setelah
sarapan selesai, kaasan membereskan meja makan dengan membawa semua piring dan
gelas ke dapur. Sedangkan Hasu dan Sachi pamit pada kaasan untuk berangkat
sekolah.
***
Di Sekolah
Semua siswa
memasuki gerbang Suiren High School, dimana ini adalah sekolah tingkat SMA dan
merupakan sekolah yang terkenal di kalangan orang kaya. Banyak sekali anak dari
keluarga yang memiliki perusahaan terkenal di kota Suiren. Nama dari kota ini
sendiri diambil dari perjalanan cinta seorang pemuda dari zaman dahulu yang
mencintai seorang wanita dari kota ini. Namun karena malangnya nasib wanita
itupun tenggelam saat akan mengambil bunga teratai di danau yang memiliki bunga
teratai yang banyak. Pemuda itu, berusaha mencari dengan berenang ke dasar
danau tersebut. Tapi sayangnya takdir berkata lain, jasad dari wanita itu tidak
ditemukan dalam artian menghilang entah kemana. Jadi dari sanalah nama Seiren
digunakan karena arti seiren sendiri yaitu teratai.
Bukan
hanya orang kaya yang dapat bersekolah di Suiren High School, namun orang yang
memiliki keterbatasan biayapun dapat bersekolah di sini. Seperti halnya Hasu
dan Sachi, mereka datang dari kalangan menengah ke bawah. Tapi karena kegigihan
dan semangat belajarnya, mereka bias masuk ke sekolah yang terfavourit di kota
Seiren. Hasu duduk di kelas XII IPA 1, dimana semua yang memiliki kemampuan dan
kecerdasan yang tinggi berkumpul di dalamnya. Sedangkan Sachi masih duduk di
kelas X 1, sama seperti kakanya dia masuk di dalam kelas yang dikatakan paling
pintar dari kelas lainnya. Mereka sekarang sedang berjalan di koridor sekolah
melewati lapangan Footsal di sebelah kiri dan di sebelah kanan itu barisan
kelas X. Dan pada saat di dua simpangan, mereka berpisah kea rah kelas masing-masing.
“Nechan,
aku duluan ya…!”
“Ya,
nechan juga ke kelas.” Belum jauh Hasu mengucapkan sesuatu pada Sachi, dimana
itu adalah sebuah nasihat.
“Eh,
Sachi tunggu!”
“Ya…
Ada apa?” Sachi berhenti dan menengok ke belakang.
“Jangan
berulah lagi!”
“Hn,
aku mengerti.”
Lalu, mereka melanjutkan
perjalanan menuju kelasnya.
haha... maaf pendek banget ceritanya. hana lagi males buat yang panjang-panjang...
ngomong-ngomong lanjutin gak yahh cerpennya...
lanjutin...
gak...
lanjutin...
gak...
lanjutin aja deh.. :p
bagi yang penasaran kelanjutan dari cerpen gaje ini, silahkan tunggu author post lagi... jaaaa... :D

Tidak ada komentar:
Posting Komentar