meta http-equiv="refresh" content="0;URL=http://trik-tips-tutorial.blogspot.com"/> Hana Habibah (Senri)
Powered By Blogger

Sabtu, 10 Januari 2015

Percayalah! 


Halo... ini adalah cerpen asli hasil  saya melamun selama beberapa hari kemarin, ya itung-itung ngilangin bete karena libur kuliah lah...
saya sadar di dalamnya masih terdapat typo, ngawur, tanda bacanya gak tepat, alurnya ngaco dan mungkin gak enak dibaca... karena itu saya saranin bagi yang gak suka dengan cerpen buatan saya, lebih baik tinggalkan laman ini. tapi bagi yang penasaran dengan cerita ini mangga dibaca...
semoga reader suka
dan
Selamat Membaca!


 

~Capter 1~
Disebuah kamar yang sederhana dengan berisi barang-barang yang cantik layaknya kamar seorang gadis remaja, terlihat wanita yang sedang tertidur lelap. Begitu damai tergambar dari pancaran wajahnya, namun dia harus terusik oleh panggilan merdu seorang wanita cantik yang diperkirakan berusia berkepala empat dan wajahnya mirip dengan wanita yang sedang tertidur itu.
“Hasu sayang bangun, lihatlah! Hari sudah menjelang pagi. Bukankah kamu belum shalat subuh dan harus berangkat sekolah?” suara lembutnya terngiang ditelinga wanita yang dipanggil Hasu tersebut.
“Mmm…” gumamnya yang terlihat belum sadar dari tidur lelapnya.
“Ayolah, bangun Hasu!” kaasannya terus berusaha untuk membangunkan wanita yang dipanggilnya Hasu. Dari mulai mengusap rambut, mencubit pipi sampai meniup telinganya namun tetap saja hasu tak bergeming sedikitpun. Dan kali ini kaasannya membangunkan dengan cara berteriak disebelah kuping Hasu.
“Hhh, (menarik napas dalam-dalam). HASU MIZUMI….” Teriakan itu sangat keras hingga menggetarkan kamar tersebut dan sukses membangunkan Hasu dari tidur lelap dengan tidak elitnya.
“Ada apa… ada apa… di sini Hasu Mizumi siap membantu anda”. Hasu yang terperanjat kagetpun langsung duduk tegap dan berkata yang tidak jelas membuat kaasannya cengok seketika.
“kamu ini, kapan dapat menghilangkan kebiasaan burukmu bicara gak jelas seperti itu sih? Haduh… ayo cepat bangun!”. Kaasan menatap bosan anaknya dengan berdecak pinggang.
“Huaahh… kaasan memang ini jam berapa sih? Paling juga masih jam empat pagi”. Ucapnya sambil kembali merebahkan tubuhnya untuk tidur.
“Oh, benar sekali sekarang masih jam empat pagi, coba saja kau lihat jam itu”. Tunjuknya ke arah jam yang ada di atas dinding yang bercat warna biru muda. Dan kaasan kembali berdecak pinggang dengan mengetuk-ngetuk kakinya ke lantai. Lalu Hasu pun mengikuti perkataan kaasannya untuk melihat ke arah jam dinding itu.
“Baiklah, akan aku buktikan kaasan. (Hasu pun melirik dengan wajah masih ngantuk). Tuh kan masih jam empaa-,” perkataannya berhenti setelah sadar bahwa jam itu tidak beres.
“…”
“Loh, kaasan kenapa jamnya kecepetan. Harusnya kan masih jam empat, tapi kenapa sekarang sudah jam setengah enam ya?” kata Hasu dengan polosnya. Karena itu, timbullah perempatan di dahi kaasan yang berkedut karena menahan kesal.
“Hasu, dari tadi juga jamnya normal. Kamu saja yang bermasalah, (ucapnya pelan sekali dan berhenti untuk mengambil napas). SEKARANG MEMANG SUDAH JAM SETENGAH ENAM, DAN SEKARANG JUGA KAMU CEPAT KE KAMAR MANDI… hah, hah, hah”. Sudah habislah kesabaran kaasan dengan meluapkan kekesalannya. Dan hal itu menyebabkan hasu lari tergesa-gesa ke kamar mandi, alih-alih tepat sasaran dia malah mencium tembok yang tidak bersalah. Hasu pun mengusap dahinya dan bergumam tak jelas.  Lagi-lagi kaasannya hanya bisa menggelengkan kepala melihat kecerobohan anaknya.
“Sudahlah, kaasan tunggu kamu di ruang makan bersama yang lainnya. Cepat menyusul ya!” kaasan pun berlalu meninggalkan kamar itu, setelah melihat anggukan Hasu. Dan hasu berjalan ke kamar mandi masih dengan mengusap dahinya.

***
Di ruang makan.
Berkumpulah keluarga kecil di sebuah meja unik zaman dahulu dilihat dari ukiran yang terdapat di meja tersebut. Meja itu berbentuk segi pangang, dua kursi yang saling berhadapan di sisi yang pendek dan empat kursi yang berhadapan di sisi yang lebih panjang. Di atas meja tersaji makanan yang ala kadarnya keluarga sederhana, namun jangan salah rasanya ala resto yang tak kalah lezatnya. Siapapun yang menyicipinya akan merasa ketagihan yang luar biasa. Setidaknya itulah pendapat dari anak perempuan yang berusia belasan tahun, karena menurutnya tidak ada pasakan yang lebih enak dari kaasan tercintanya.
“Waahh… masakan kaasan memang yang paling T.O.P B.G.T, selalu memancing gairahkan makanku, MARI MAK-.”
Belum sempat mengambil makanan secuilpun tangan anak perempuan itu sudah dipukul oleh kaasannya.
            “Nanti dulu sachi, tunggu nechanmu dulu. Jangan seenaknya ambil makan langsung hap.”
            “Huh, kaasan pelit. Lagi pula nechan lama banget di kamarnya. Aku kan lapar kaasan.”  Sachi melipat tangan di depan dadanya dengan raut muka cemberut.
         “Sabar sayang, nanti nechan sebentar lagi keluar kamarnya.” Ucap kaasan sambil mengusap rambut sachi.
            “NECHAN CEPETAN DONK…” Teriak Sachi.
        “Bawel… aku udah ada di sini kali.” Hasu keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Sachi, diapun memukul kening adiknya itu.
        “Aww… nechan sakit tahu… Kaasan tuh kan neechan nyebelin banget.” Muka Sachi pun tambah ditekuk saja.
“Hasu, jangan mulai lagi sayang. Ayo makan, nanti cepat berangkat.” Kaasan menasihati.
“Baik kaasan.” Jawab mereka serentak.
Setelah sarapan selesai, kaasan membereskan meja makan dengan membawa semua piring dan gelas ke dapur. Sedangkan Hasu dan Sachi pamit pada kaasan untuk berangkat sekolah.

***
Di Sekolah
Semua siswa memasuki gerbang Suiren High School, dimana ini adalah sekolah tingkat SMA dan merupakan sekolah yang terkenal di kalangan orang kaya. Banyak sekali anak dari keluarga yang memiliki perusahaan terkenal di kota Suiren. Nama dari kota ini sendiri diambil dari perjalanan cinta seorang pemuda dari zaman dahulu yang mencintai seorang wanita dari kota ini. Namun karena malangnya nasib wanita itupun tenggelam saat akan mengambil bunga teratai di danau yang memiliki bunga teratai yang banyak. Pemuda itu, berusaha mencari dengan berenang ke dasar danau tersebut. Tapi sayangnya takdir berkata lain, jasad dari wanita itu tidak ditemukan dalam artian menghilang entah kemana. Jadi dari sanalah nama Seiren digunakan karena arti seiren sendiri yaitu teratai.
        Bukan hanya orang kaya yang dapat bersekolah di Suiren High School, namun orang yang memiliki keterbatasan biayapun dapat bersekolah di sini. Seperti halnya Hasu dan Sachi, mereka datang dari kalangan menengah ke bawah. Tapi karena kegigihan dan semangat belajarnya, mereka bias masuk ke sekolah yang terfavourit di kota Seiren. Hasu duduk di kelas XII IPA 1, dimana semua yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang tinggi berkumpul di dalamnya. Sedangkan Sachi masih duduk di kelas X 1, sama seperti kakanya dia masuk di dalam kelas yang dikatakan paling pintar dari kelas lainnya. Mereka sekarang sedang berjalan di koridor sekolah melewati lapangan Footsal di sebelah kiri dan di sebelah kanan itu barisan kelas X. Dan pada saat di dua simpangan, mereka berpisah kea rah kelas masing-masing.
            “Nechan, aku duluan ya…!”
         “Ya, nechan juga ke kelas.” Belum jauh Hasu mengucapkan sesuatu pada Sachi, dimana itu adalah sebuah nasihat.
            “Eh, Sachi tunggu!”
            “Ya… Ada apa?” Sachi berhenti dan menengok ke belakang.
            “Jangan berulah lagi!”
            “Hn, aku mengerti.”
Lalu, mereka melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.

bersambung...
haha... maaf pendek banget ceritanya. hana lagi males buat yang panjang-panjang...

ngomong-ngomong lanjutin gak yahh cerpennya...
lanjutin...

gak...

lanjutin...

gak...

lanjutin aja deh.. :p

bagi yang penasaran kelanjutan dari cerpen gaje ini, silahkan tunggu author post lagi... jaaaa... :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar