Nah ini dia kelanjutan dari capter sebelumnya... :)
Masih tetap sama ceritanya gaje, typo, ngawur dan amburadul seperti sebelumnya, jadi bagi yang enggan meneruskan membaca kelanjutan ceritanya dimohon STOP sampai disini saja!
.
.
.
Tapi bagi yang penasaran seperti apa terusan dari capter kemaren :D dimohon baca seksama cerita di bawah ini!
Selamat Membaca!
Percayalah!
~Capter 2~
Di Kelas XII IPA 1
Hasu memasuki
kelasnya dengan santainya tanpa menyapa satu orang pun penghuni kelas. Namun
teman-temannya sudah terbiasa dengan sikapnya itu dan mereka hanya hanya
menghela napas menanggapi hal tersebut. Walaupun begitu tetaplah hasu menjadi
hal yang dikagumi oleh teman-temannya, karena Hasu bukan hanya pintar saja
melainkan dia juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, bukankah itu keren. Pikir
mereka. Kelas ini dihuni oleh siswa yang memiliki kemampuan berpikir yang
tinggi dibandingkan dengan kelas lainnya. Persaingan merupakan hal yang sangat
mereka sukai, bukan persaingan soal percintaan tetapi persaingan dalam meraih
prestasi belajar yang unggul. Semakin ketat persaingan maka semakin hebat juga
kemampuan yang mereka miliki.
Hasu berjalan
menuju tempat duduknya yang berada jauh dari pintu masuk tepatnya berada di
dekat jendela paling depan dan sejajar dengan meja guru. Kini Hasu telah duduk
manis di tempatnya dan dia memandang ke luar jendela. Dimana terdapat siswa
lain yang sedang menikmati keindahan taman belakang sekolah. Dulunya tempat itu
tidak banyak orang kunjungi, karena banyak yang beranggapan bahwa tempat itu
angker. Apanya yang angker? Bukankah tempat itu sangat menarik dan begitu
nyaman untuk menjernihkan pikiran, pikir Hasu nostalgia. Tapi lihatlah
sekarang! Tempat itu sudah menjadi tempat yang ramai dengan siswa yang
berkumpul, entah itu hanya berbincang-bincang atau bercanda. Memikirkan hal
tersebut membuat Hasu menghela napas berat, karena tempat yang dulunya paling
dia sukai untuk menyendiri kini telah berubah. Saking terhanyut dengan dunianya
Hasu tidak menyadari seseorang yang menghampirinya.
“Pagi Ha-chan!”.
Sapa seorang pemuda.
“…”
Menyadari tidak ada respon dari siempunya, pemuda itu mengulang lagi
sambil menepuk pundak Hasu.
“Pagi
Ha-chan!”
“Ah! Baik pak saya
minta maaf!”.
Sedang asiknya melamun Hasu dikagetkan oleh seseorang entah siapa. Dan
kini dia malah meneriaki hal yang tak jelas. Membuat pemuda itu terheran–heran
dengan refleks gadis tersebut.
“Eh?”
Tersadar dari acara cengoknya pemuda itu mengatakan sesuatu.
“Apa aku setua
itukah, sampai kamu menyebutku dengan
pak?”
“Eh! Taki, sejak
kapan kau ada di situ?”
Tanyanya polos, benar-benar polos sampai tidak menyadari kehadiran
Taki, bahkan panggilannya pun tidak digubrisnya. Sekali lagi Taki hanya
menghela napas.
“Huft, entahlah”
Takipun cemberut, tanda bahwa dia sedang kesal terhadap kepolosan Hasu
yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Hasu yang tidak mengerti akan kekesalan
Taki itu hanya menatap heran ke arah Taki. Hal tersebut membuat taki menengok
dan menatap tajam ke arah Hasu yang sukses membuat Hasu salah tingkah.
“Et- eto, mmm…
ampun deh kalo aku salah ngomong. Tapi jangan natap aku kaya gitu dong!
Menyeramkan tahu.”
Ucapnya gugup. Lalu, karena sudah terlalu kesal Taki menghela napas
panjang dan mulai untuk berbicara…
“Dengar ya! tadi
aku masuk kelas, lalu aku duduk DI SINI (sambil menegaskan kata DI SINI dengan
menunjuk tempatnya duduk). Akupun menyapa kau, tapi tak ada jawaban atau respon
sedikitpun. Karena aku pikir kau tak dengar, maka aku mengulangnya. Dan apa
tadi kau menjawab dengan, Ah! Baik pak saya minta maaf! Hah… hah… hah…”
Dia berhenti sejenak untuk mengambil napas.
“Bukankah itu
sangat menyebalkan?” lanjutnya.
Setelah penjelasan panjang lebar yang Taki lakukan lengkap dengan
meragakan gerakan Hasu tadi. Kini Hasulah yang cengok melihat penjelasan Taki
yang menurutnya terbilang aneh itu.
“Apa?”
“Hehe… aneh!”
jawabnya dengan senyum kaku.
“Ha-chan! Kau tau
tidak?”
“Hmm?” Menaikan
sebelah alisnya.
“KAU ITU SANGAT
MENJENGKELKAN” teriaknya prustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Lalu, perdebatan itu diakhiri dengan hasu yang mengedikan bahu dan
kedatangan pak guru.
“Selamat pagi
semua!”
“Pagi pak!”
“Nah, baiklah pagi
ini kita akan mempelajari bagaimana mengoperasikan power point. Untuk itu
kalian coba buka Buku Paket kalian pada halaman 170, di sana terdapat materi
yang akan kita bahas.”
“Baik pak!”
Ucap serentak penghuni kelas.
***
Di Kelas X 1
Berbeda dengan
Kelas XII IPA 1, keadaan di dalam kelas ini sangatlah hening. Karena semua
siswa sedang mengerjakan tugas yang sepertinya diberikan oleh guru mereka yang
dikabarkan tidak dapat hadir ke kelas. Ini menandakan bahwa mereka sangat
serius dalam belajar. Karena walau tidak ada guru di kelas, mereka tidak
melakukan keributan seperti halnya siswa pada umumnya yang sudah pasti apabila
ditinggalkan gurunya ke luar walau hanya satu menit saja, maka mereka langsung
melakukan kegiatan yang mereka sukai tanpa mempedulikan tugas yang telah
diberikan sang guru. Sungguh luar biasa memang siswa yang memiliki kemampuan di
atas rata-rata mengenai pelajaran. Di bangku yang paling depan tepatnya
berhadapan dengan papan tulis dan di barisan ke dua dari samping kanan. Sachi
sedang mengerjakan soal dengan serius, dia sangat pandai dalam menjawab setiap
soal yang ada. Namun keseriusannya itu terganggu oleh kehadiran seseorang.
“Maaf Sachi, apa
aku boleh meminta bantuanmu?”
Ucap seseorang itu yang datang dari arah belakang tempat duduk Sachi.
Sebelumnya sachi hanya memandang gadis di hadapannya tanpa mengucapkan apapun.
Lalu, Sachi teringat akan ucapan kakaknya…
‘Jangan berulah
lagi!’
‘Ah! Benar aku
harus berbaik hati membantu seseorang yang memang membutuhkan bantuanku’
pikirnya.
“Fyuuh…”
Sachipun menghembuskan napas.
“Baiklah, boleh
saja. Memang apa yang inginku bantu?”
lanjutnya pasrah.
“Bagini tadi aku
mengerjakan soal No. 6, kemudian aku berusaha mencari jawaban yang benar. Tapi
sayangnya aku benar-benar tidak menemukan jawaban itu. Hmm… apakah kamu mau
mengajarkan aku bagaimana cara mengerjakannya?”
Pengakuan gadis itu dengan sangat jujur. Sedangkan sachi mencoba
menimbang-nimbang tentang apakah dia harus mengajarinya atau menolaknya dan
bilang saja dia juga tidak bisa mengerjakannya. Tapi itu pemikiran yang jahat,
karena memang sebenarnya dia bisa mengerjakannya. Dan sudah banyak yang tahu
juga bahwa Sachi pandai dalam pelajaran Kimia. Bagaimana nanti jika dia
dipandang menyebalkan lagi oleh teman-temannya gara-gara dia tidak mau membantu
salah satu dari mereka. ‘Tidak terimakasih, aku sudah cukup dengan yang waktu
itu.’ Pikir Sachi. Lalu, pada akhirnya diapun mau membantu juga.
“Mmm… baiklah
Ai-chan aku akan membantumu.”
“Terimakasih
Sachi!” ucapnya dengan senyum yang merekah.
Kemudian sachipun menjelaskan rumus yang harus digunakan untuk
mengerjakan soal tersebut. Sampai pada akhirnya gadis yang bernama Ai itu
benar-benar mengerti.
TEEET… TEEET… TEEET…
Kegiatan mereka akhirnya terhenti oleh bunyi bel Sekolah yang
terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah.
To Be Continued...
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar