meta http-equiv="refresh" content="0;URL=http://trik-tips-tutorial.blogspot.com"/> Hana Habibah (Senri)
Powered By Blogger

Sabtu, 24 Januari 2015

Nah ini dia kelanjutan dari capter sebelumnya... :)
Masih tetap sama ceritanya gaje, typo, ngawur dan amburadul seperti sebelumnya, jadi bagi yang enggan meneruskan membaca kelanjutan ceritanya dimohon STOP sampai disini saja!
.
.
.
Tapi bagi yang penasaran seperti apa terusan dari capter kemaren :D dimohon baca seksama cerita di bawah ini!


Selamat Membaca!

Percayalah!

~Capter 2~

Di Kelas XII IPA 1
                Hasu memasuki kelasnya dengan santainya tanpa menyapa satu orang pun penghuni kelas. Namun teman-temannya sudah terbiasa dengan sikapnya itu dan mereka hanya hanya menghela napas menanggapi hal tersebut. Walaupun begitu tetaplah hasu menjadi hal yang dikagumi oleh teman-temannya, karena Hasu bukan hanya pintar saja melainkan dia juga menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS, bukankah itu keren. Pikir mereka. Kelas ini dihuni oleh siswa yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi dibandingkan dengan kelas lainnya. Persaingan merupakan hal yang sangat mereka sukai, bukan persaingan soal percintaan tetapi persaingan dalam meraih prestasi belajar yang unggul. Semakin ketat persaingan maka semakin hebat juga kemampuan yang mereka miliki.
                Hasu berjalan menuju tempat duduknya yang berada jauh dari pintu masuk tepatnya berada di dekat jendela paling depan dan sejajar dengan meja guru. Kini Hasu telah duduk manis di tempatnya dan dia memandang ke luar jendela. Dimana terdapat siswa lain yang sedang menikmati keindahan taman belakang sekolah. Dulunya tempat itu tidak banyak orang kunjungi, karena banyak yang beranggapan bahwa tempat itu angker. Apanya yang angker? Bukankah tempat itu sangat menarik dan begitu nyaman untuk menjernihkan pikiran, pikir Hasu nostalgia. Tapi lihatlah sekarang! Tempat itu sudah menjadi tempat yang ramai dengan siswa yang berkumpul, entah itu hanya berbincang-bincang atau bercanda. Memikirkan hal tersebut membuat Hasu menghela napas berat, karena tempat yang dulunya paling dia sukai untuk menyendiri kini telah berubah. Saking terhanyut dengan dunianya Hasu tidak menyadari seseorang yang menghampirinya.
“Pagi Ha-chan!”. Sapa seorang pemuda.
“…”
Menyadari tidak ada respon dari siempunya, pemuda itu mengulang lagi sambil menepuk pundak Hasu.
“Pagi Ha-chan!”            
“Ah! Baik pak saya minta maaf!”.
Sedang asiknya melamun Hasu dikagetkan oleh seseorang entah siapa. Dan kini dia malah meneriaki hal yang tak jelas. Membuat pemuda itu terheran–heran dengan refleks gadis tersebut.
“Eh?”
Tersadar dari acara cengoknya pemuda itu mengatakan sesuatu.
“Apa aku setua itukah, sampai kamu menyebutku  dengan pak?”
“Eh! Taki, sejak kapan kau ada di situ?”
Tanyanya polos, benar-benar polos sampai tidak menyadari kehadiran Taki, bahkan panggilannya pun tidak digubrisnya. Sekali lagi Taki hanya menghela napas.
“Huft, entahlah”
Takipun cemberut, tanda bahwa dia sedang kesal terhadap kepolosan Hasu yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Hasu yang tidak mengerti akan kekesalan Taki itu hanya menatap heran ke arah Taki. Hal tersebut membuat taki menengok dan menatap tajam ke arah Hasu yang sukses membuat Hasu salah tingkah.
“Et- eto, mmm… ampun deh kalo aku salah ngomong. Tapi jangan natap aku kaya gitu dong! Menyeramkan tahu.”
Ucapnya gugup. Lalu, karena sudah terlalu kesal Taki menghela napas panjang dan mulai untuk berbicara…
“Dengar ya! tadi aku masuk kelas, lalu aku duduk DI SINI (sambil menegaskan kata DI SINI dengan menunjuk tempatnya duduk). Akupun menyapa kau, tapi tak ada jawaban atau respon sedikitpun. Karena aku pikir kau tak dengar, maka aku mengulangnya. Dan apa tadi kau menjawab dengan, Ah! Baik pak saya minta maaf! Hah… hah… hah…”
Dia berhenti sejenak untuk mengambil napas.
“Bukankah itu sangat menyebalkan?” lanjutnya.
Setelah penjelasan panjang lebar yang Taki lakukan lengkap dengan meragakan gerakan Hasu tadi. Kini Hasulah yang cengok melihat penjelasan Taki yang menurutnya terbilang aneh itu.
“Apa?”
“Hehe… aneh!” jawabnya dengan senyum kaku.
“Ha-chan! Kau tau tidak?”
“Hmm?” Menaikan sebelah alisnya.
“KAU ITU SANGAT MENJENGKELKAN” teriaknya prustasi sambil mengacak-acak rambutnya.
Lalu, perdebatan itu diakhiri dengan hasu yang mengedikan bahu dan kedatangan pak guru.
“Selamat pagi semua!”
“Pagi pak!”
“Nah, baiklah pagi ini kita akan mempelajari bagaimana mengoperasikan power point. Untuk itu kalian coba buka Buku Paket kalian pada halaman 170, di sana terdapat materi yang akan kita bahas.”
“Baik pak!”
Ucap serentak penghuni kelas.

***
Di Kelas X 1
                Berbeda dengan Kelas XII IPA 1, keadaan di dalam kelas ini sangatlah hening. Karena semua siswa sedang mengerjakan tugas yang sepertinya diberikan oleh guru mereka yang dikabarkan tidak dapat hadir ke kelas. Ini menandakan bahwa mereka sangat serius dalam belajar. Karena walau tidak ada guru di kelas, mereka tidak melakukan keributan seperti halnya siswa pada umumnya yang sudah pasti apabila ditinggalkan gurunya ke luar walau hanya satu menit saja, maka mereka langsung melakukan kegiatan yang mereka sukai tanpa mempedulikan tugas yang telah diberikan sang guru. Sungguh luar biasa memang siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata mengenai pelajaran. Di bangku yang paling depan tepatnya berhadapan dengan papan tulis dan di barisan ke dua dari samping kanan. Sachi sedang mengerjakan soal dengan serius, dia sangat pandai dalam menjawab setiap soal yang ada. Namun keseriusannya itu terganggu oleh kehadiran seseorang.
“Maaf Sachi, apa aku boleh meminta bantuanmu?”
Ucap seseorang itu yang datang dari arah belakang tempat duduk Sachi. Sebelumnya sachi hanya memandang gadis di hadapannya tanpa mengucapkan apapun. Lalu, Sachi teringat akan ucapan kakaknya…
‘Jangan berulah lagi!’
‘Ah! Benar aku harus berbaik hati membantu seseorang yang memang membutuhkan bantuanku’ pikirnya.
“Fyuuh…”
Sachipun menghembuskan napas.
“Baiklah, boleh saja. Memang apa yang inginku bantu?”
lanjutnya pasrah.
“Bagini tadi aku mengerjakan soal No. 6, kemudian aku berusaha mencari jawaban yang benar. Tapi sayangnya aku benar-benar tidak menemukan jawaban itu. Hmm… apakah kamu mau mengajarkan aku bagaimana cara mengerjakannya?”
Pengakuan gadis itu dengan sangat jujur. Sedangkan sachi mencoba menimbang-nimbang tentang apakah dia harus mengajarinya atau menolaknya dan bilang saja dia juga tidak bisa mengerjakannya. Tapi itu pemikiran yang jahat, karena memang sebenarnya dia bisa mengerjakannya. Dan sudah banyak yang tahu juga bahwa Sachi pandai dalam pelajaran Kimia. Bagaimana nanti jika dia dipandang menyebalkan lagi oleh teman-temannya gara-gara dia tidak mau membantu salah satu dari mereka. ‘Tidak terimakasih, aku sudah cukup dengan yang waktu itu.’ Pikir Sachi. Lalu, pada akhirnya diapun mau membantu juga.
“Mmm… baiklah Ai-chan aku akan membantumu.”
“Terimakasih Sachi!” ucapnya dengan senyum yang merekah.
Kemudian sachipun menjelaskan rumus yang harus digunakan untuk mengerjakan soal tersebut. Sampai pada akhirnya gadis yang bernama Ai itu benar-benar mengerti.
TEEET… TEEET… TEEET…
Kegiatan mereka akhirnya terhenti oleh bunyi bel Sekolah yang terdengar nyaring ke seluruh penjuru sekolah.

To Be Continued...


selesai deh capter yang dak bermutu ini... terimakasih pada readers yang mau menyempatkan untuk membaca! jangan lupa review untuk membangunnya...
.
.
.
Bagaimana lanjut? :D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar