Sebuah Pertemuan
Suara ombak terdengar ribut saat tiba di tepi
pantai, begitu terhempas oleh angin. Ku lihat jelas pemandangan indah ini,
hampir ku nikmati setiap pagi. Saat ini, Aku duduk dengan beralaskan pasir
putih nan halus. Aku memakai kaos biru muda dan boxer hitam, layaknya orang
baru bangun tidur. Karena setelah aku bangun tidur serta melakukan rutinitas di
pagi hari, Aku pasti menyempatkan waktu sejenak untuk menghirup udara segar di
pantai ini, jaraknya tak jauh dari Apartemenku berada. Ketika sedang terhanyut
dengan keindahan di depan mata, aku merasakan kehadiran seseorang yang telah
berdiri di belakangku. Akupun memalingkan wajahku kearah sosok itu, sekedar
untuk memastikan.
“Tuan Habi, maaf Saya menggangu. Tapi ini waktunya
Tuan untuk pergi sekolah. Mengenai seragam dan sarapan sudah Saya siapkan,”
ucap seorang paman yang ku kenal, bahkan sangat.
Benar saja Paman Uta, dia pelayan sekaligus
pengasuhku sejak aku belum mengenal tulisan sampai detik ini juga. Aku kembali
mengalihkan pandanganku menghadap lautan.
“Baik paman, sebentar lagi. Nanti aku pasti akan
bersiap-siap,” jawabku sekenanya tanpa mengeluarkan ekspresi.
“Jika begitu, Saya akan menyiapkan motor untuk
Tuan.”
“Tidak Paman, sudah berapa kali Aku bilang, kalau
Aku tidak mau naik kendaraan itu. Paman juga sudah tau bukan, keinginanku agar
dikenal sebagai orang biasa dan menyembunyikan identitas sebagai anak designer
terkenal,” ucapku membantah.
“Tapi Tuan, ini perintah langsung dari Nyonya
supaya Tu-,“ sebelum ucapannya diselesaikan Aku langsung memotongnya.
“Cukup Paman, Aku tidak ingin ada bantahan,
mengenai Ibu nanti Aku akan bicara padanya.”
“Baik Saya paham Tuan, Saya permisi.”
Aku hanya membalas dengan anggukan halus, pertanda
menyetujui. Setelah paman pergi, Aku melamun mengenai kenyataan bahwa Aku
adalah anak dari wanita yang mempunyai perekonomian menengah ke atas. Karena
Ibuku bekerja sebagai designer terkenal di negeri ini. Walau begitu, Ibu adalah
sosok wanita yang tetap hebat di mataku, karena Ibu selalu memprioritaskan Aku
dan sangat menyayangiku. Hampir semua aset yang Ibu miliki, mengatasnamakan
Aku, Habi Qolbu. Padahal Aku sendiri tidak menginginkan apa-apa kecuali kasih
sayangnya.
Ketika akan duduk di bangku SMA, Aku memutuskan
untuk tinggal di Apartemen yang jauh dari rumah Ibu, supaya Aku dapat hidup
lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada kekayaan Ibu. Awalnya Ibu
melarang, tapi karena aku tetap bersikeras dengan keinginanku. Pada akhirnya
Ibu menginjinkan, namun dengan syarat ditemani Paman Uta dan harus membawa satu
transport. Dan terpaksa aku menyetujuinya dan memilih motor sport untuk dibawa
bersamaku, sampai saat ini aku telah tinggal di Apartemen bersama Paman
Uta. Akupun tersadar dari lamunanku,
sampai tak terasa Aku telah melewati waktu selama lima menit. Dan aku
memutuskan untuk kembali ke Apartemen, lalu bersiap pergi ke sekolah.
Kulangkahkan kaki ini ke dalam Apartemen sampai
tiba di dalam kamarku. Aku memakai seragam putih abu yang telah Paman siapkan
dan tak lupa jas pengenal sekolahku. Setelah semuanya rapi yang terlihat dari
pantulan cermin, aku bergegas sarapan roti dan susu yang sudah tersedia di atas
meja makan. Selesai sarapan, Aku melihat waktu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Aku
mencari keberadaan Paman di segala arah pandangku, tapi tak ku lihat batang
hidungnya sedikitpun, mungkin sedang keluar. Sehingga Aku pergi sekolah tanpa
berpamitan.
***
Pemandangan yang sudah asing di mataku ketika
menginjakan kaki di gerbang SMAN 1 Merdeka, Jakarta. Banyak siswa yang memasuki
gedung sekolah. Ada yang bercengkrama, membaca novel sambil berjalan, dan ada
pula yang bersikap acuh tak acuh. Haaahh… sungguh pemandangan yang sudah
menjadi santapan setiap pagi. Kini aku mulai merasa bosan dengan keadaan
seperti ini, tidak adakah yang dapat membuatku tertarik dan bersemangat.
Seperti intan permata yang indah dan langka, sehingga sulit untukku dapatkan.
Karena selama lebih satu tahun ini, aku belum pernah menemukan sosok tersebut,
semua yang kutemui terlalu biasa saja.
Duk…
“Aduuuhh…”
Asiknya melamun ternyata membuatku bertabrakan
dengan seseorang sehingga menyebabkan dia sampai terjatuh. Hal itu
menyadarkanku dari acara melamun. Lalu aku melihat siapa yang kutabrak,
ternyata dia seorang wanita. Duuuh… cerobohnya aku.
“Ma-maafkan aku! …Biar ku bantu kamu berdiri.”
Aku mengulurkan tangan kanan ke hadapannya sehingga
dia menerima uluran tanganku. Langsung saja aku tarik tangannya sampai dia
berdiri sepenuhnya. Kemudian dia menatap kearahku dengan ekspresi yang sulit
untukku baca. Tak dapat di percaya aku terpana sejenak oleh matanya yang
terlihat berwarna coklat bening, sehingga satu kata yang terlintas di benakku.
“Indah.”
“Apa? Apa yang kamu katakan tadi?” Pertanyaannya
menyadarkanku dari tatapan yang tak sengaja tadi.
“M-m… Tidak, bukan apa-apa. Oh, iya. Kamu tidak
apa-apakan? Maaf, tadi aku benar-benar tidak melihatmu berjalan berlawanan arah
denganku,” kataku menyesal.
“Aku tidak apa-apa. Saya juga bersalah, karena
berjalan terburu-buru dan tidak berhati-hati. Tapi maaf bisa lepaskan tanganmu
dari tangan saya?” ucapnya dengan senyum canggung.
“Ah, maaf… maaf… aku lupa.-” Secepatnya aku
melepaskan tanganku dari tangannya dan itu membuatku salah tingkah. Tapi,
karena aku jarang berekspresi seperti itu, aku dapat menyembunyikannya dengan
wajah datarku. “-syukurlah jika kamu baik-baik saja,” ucapku melanjutkan.
“Ah, saya baru ingat harus pergi ke Ruang Kepala
Sekolah. Kalau begitu saya pergi dulu, daahh…”
Belum sempat aku berbicara dia sudah pergi menjauh,
tinggalah aku sendiri yang menatap kepergiannya. Tapi dari kejauhan dia
berbalik dan mengatakan sesuatu sambil membungkukan kepala sedikit.
“Terimakasih!”
Setelah mengucapkan kata itu dia kembali pergi
dengan jalan terburu-buru dan sedikit berlari. Aku pun tersenyum simpul
melihatnya.
“Siapa gerangan wanita yang memiliki mata indah
itu? Apa mungkin dia siswa baru di sekolah ini. Karena aku baru melihat
kehadirannya. Hmm… entahlah.” Aku hanya dapat berbicara dengan udara tanpa ada
sebuah jawaban pasti.
Sepertinya kini aku telah tertarik padanya. Bukan
hanya matanya yang indah, tapi wajahnya pun cantik, sehingga membuatku tak
ingin berpaling darinya. Tapi sayang, aku tak sempat menanyakan siapa namanya.
Semoga saja aku dapat berjumpa kembali dengannya.
“Sebaiknya aku pergi ke kelas sebelum bel
berbunyi.” Aku pun memutuskan pergi ke kelas dan berbelok di tikungan antara
kelas satu dengan yang lainnya.
***
Seorang wanita berseragam putih abu sedang berdiri
di depan pintu yang bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Dia mengetuk pintu
tersebut dengan berhati-hati. Tok… Tok… Tok…
“Permisi, boleh saya masuk?”
Ketukan itu terdengar sampai ke dalam ruangan itu,
sehingga penghuni ruangan itu menjawabnya.
“Ya, Masuklah!”
Krieett…
Pintu pun terbuka pelan dan munculah wanita yang
berseragam putih abu tadi dan menutup pintu kembali. Ceklek... Kemudian dia
berjalan ke arah meja tempat duduknya wanita dewasa yang diketahui sebagai
Kepala Sekolah. Dia membungkukan badannya sedikit pertanda rasa hormat.
“Permisi Bu, saya siswa baru pindahan dari
Bandung,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Hmm… Jadi kamu siswa baru pindahan itu. Kalau saya
tidak salah, nama kamu Zahra Ahmar, benar?” tanya Kepala Sekolah.
“Iya, benar nama saya Zahra.”
“Baiklah, kalau begitu di hari pertama kamu masuk.
Saya akan menempatkan kamu di kelas Sebelas IPA Satu. Karena dari data-data
nilai kamu di sekolah sebelumnya kamu mendapat nilai yang baik sekali.”
“Terimakasih Bu, tapi saya belum mengetahui tata
letak kelasnya.”
“Jangan khawatir, saya akan panggilkan wali kelas
kamu nanti untuk mengantarkanmu.”
Seperti yang dikatakannya tadi, Kepala Sekolah
menekan sebuah tombol khusus yang berada di atas meja sebelah kanan. Dilihat
dari bentuknya, dapat dipastikan bahwa tombol itu untuk memanggil sebagai
pengganti telepon genggam.
“Pak Bito sekarang tolong datang ke ruangan saya.”
Hanya sebuah alat untuk memanggil dan tidak bisa
untuk berkomunikasi, tapi terdengar suara bip…bip… hal itu menandakan bahwa
panggilan diterima dan perintah segera dilaksanakan.
Tidak harus menunggu lama, hanya sekitar dua menit
terdengar suara ketukan dari arah pintu.
Tok… Tok… Tok…
“Masuklah Pak Bito.”
Lalu pintu terbuka dan masuklah pria berperawakan
tinggi dan tegap yang memakai seragam guru.
“Maaf, apa yang Ibu perlukan sehingga memanggil
saya?” tanya orang yang bernama Pak Bito.
“Pak Bito, dia adalah siswa baru yang akan masuk ke
kelas anda. Namanya Zahra, pindahan dari Bandung. Tolong bawa sertakan dia
bersama anda datang ke kelas Sebelas IPA Satu. Semua data-data mengenai Zahra
nanti saya persiapkan.”
“Baiklah Bu, saya mengerti. Kalau begitu saya
permisi.”
Lalu pak Bito pun undur diri dari hadapan Kepala
Sekolah dan menghampiri Zahra.
“Zahra, mari ikut dengan saya.”
“Baik Pak.”
Zahra menghadap ke arah Kepala Sekolah dan
membungkuk hormat untuk pamit undur diri. Setelah itu, dia mengikuti Pak Bito
untuk pergi ke kelas barunya. Kelas yang menantinya akan sebuah perasaan dari
seorang pria, entah itu teman, sahabat, maupun cinta sejatinya.
***
Pemandangan dalam kelas ini tak berubah setiap
harinya. Dikala guru belum menginjakkan kakinya di kelas ini, semua siswa
selalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing tanpa mengeluarkan suara
sedikitpun. Padahal yang sering aku dengar ketika tingkat SMP, banyak yang
mengatakan bahwa SMA itu tingkatan yang paling menyenangkan. Baik dari
kejahilan, keributan, percintaan, pelajaran, persahabatan, maupun tentang hal
menyenangkan lainnya. Tapi apa yang aku rasakan saat ini sangatlah berbeda,
semua siswa yang berada di kelas ini selalu serius dan membuatku jenuh. Bisa
dibilang mereka itu seperti zombie, kaku sekali. Semakin lama aku bergaul
bersama mereka bisa jadi aku akan tertular dengan kebiasaan seperti itu.
Saat ini aku duduk di bangku yang letaknya tepat di
barisan dekat pintu, ketiga dari depan dan kedua dari belakang dekat dengan
jendela. Bangku di sampingku masih terlihat kosong, karena aku merasa belum ada
yang membuatku nyaman menjadi teman dekatku untuk menghuni bangku tersebut.
Atau mungkin semua teman di sini terlalu acuh tak acuh terhadap teman lainnya,
begitupun denganku. Ada kalanya aku dan teman sekelas bekerjasama, itupun
ketika sedang mengerjakan tugas kelompok, selebihnya aku dan mereka selalu
sendiri-sendiri. Setiap hari aku berharap ada seorang yang dapat merubah
suasana kelas ini. Ngomong-ngomong aku jadi teringat dengan wanita yang kutemui
tadi, apalagi dengan wajahnya yang cantik, rambutnya yang panjang, dan tidak
lupa dengan matanya yang terlihat begitu indah. Siapa gerangan dia? Jika benar
dia siswa baru, aku harap dia akan sekelas denganku.
Ku palingkan pandanganku dari kelas ke arah jendela,
pertama yang ditangkap oleh penglihatanku adalah lapangan basket yang begitu
sepi. Karena saat ini semua siswa sedang berada di kelasnya masing-masing dan
mengikuti kegiatan pembelajaran.
“Oh, iya… kenapa pak Bito belum datang? Padahal ini
sudah lewat jam 07. 15 menit. Tidak biasanya beliau datang terlambat,” gumamku
heran. Tanpa berpaling dari pemandanganku, aku terhanyut dengan pemikiranku.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu, dua orang
masuk ke dalam kelas yaitu seorang pria berpakaian guru yang berpostur tinggi
dan tegap beserta seorang wanita berseragam putih abu. Pria tersebut dikenal
sebagai pak Bito dan wanita itu seorang siswa baru. Di depan kelas pak Bito
menyapa semua siswa dan memperkenalkan siswa tersebut kepada mereka.
“Selamat pagi anak-anak! Hari ini kelas kita
kedatangan siswa baru baru, semoga kalian dapat menerima dengan baik.”
“ Nah, Zahra. Silahkan kamu perkenalkan diri!” Ucap
pak Bito dengan ramah.
“Baik. Hallo teman-teman! Perkenalkan nama saya
Zahra, saya siswa pindahan dari Bandung. Salam kenal semuanya!”
Dengan senyumnya yang manis Zahra memperkenalkan.
Tapi, sungguh tidak disangka tidak ada satupun siswa dihadapannya yang
tersenyum. Mereka semua berwajah datar dan tidak menunjukan ekspresi yang
menyambut. Hal itu membuat Zahra bersedih, tapi pak Bito yang paham dengan
keadaan langsung mengintrupsi Zahra untuk duduk.
“Ekhemm… Zahra lebih baik kamu duduk. Silahkan
pilih tempat yang akan kamu duduki! Bangku yang masih kosong ada dua, yaitu
disebelah kiri paling belakang atau di sebelah kanan, kedua dari belakang?”
Zahra pun mengarahkan pandangannya menuju tempat
yang ditunjukkan oleh pak Bito. Dan akhirnya dia melihat ke tempat di mana
seseorang duduk dengan wajah menghadap jendela, tepatnya sebelah kanan kedua
dari belakang. Ketika melihatnya, Zahra seperti mengenal orang tersebut.
Sehingga dia memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Baik, pak saya akan duduk di sebelah kanan kedua
dari belakang,” Jawabnya senang.
“Silahkan!”
Zahra pun melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang
telah dipilihnya tadi.
“Bolehkah saya duduk di samping kamu?”
…
Aku mendengar seseorang berujar kepadaku, bukan
akan tetapi dia bertanya. Karena aku mendengar sekilas, aku pun jawab dengan
sekenanya.
“Ya, boleh.”
“Apa pemandangan di luar begitu menarik, sehingga
kamu tak melirik sedikitpun pada orang yang berbicara kepadamu?”
Terdengar suara lagi dari sampingku. Eh, tunggu.
Seperti suara seorang wanita, siapa? Karena penasaran aku memutuskan untuk
menoleh ke arah suara, dan hora… Ternyata dia wanita yang tadi masuk pikiranku.
“Kamu?’
“Hallo! Kita ketemu lagi.”
“T-tapi kamu kenapa bisa ada di kelasku?”
Kehadirannya sangat membuatku terkejut, sampai aku
lupa untuk memgedipkan mata. Benarkan, dia itu seperti hantu! Sekarang saja dia
tiba-tiba berada di hadapanku.
“Karena saya siswa baru di Sekolah ini dan tidak
disangka saya ditempatkan di kelas yang sama dengan kamu.”
Aku masih menatapnya tak percaya, ternyata
harapanku menjadi kenyataan. Sungguh hari yang sangat beruntung, terimakasih Ya
Allah.
“Hei, kamu baik-baik saja?”
Tidak, lagi-lagi aku melamun. Ini sangat memalukan,
pasti kesan pertamaku sangat aneh di matanya. Saat aku tersadar, dia sedang
melambaikan tangannya di depan wajahku.
“Ah, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah. Oh, iya… Kita belum saling mengenal
nama satu sama lain. Nama kamu siapa? Kalau saya Zahra,” ucapnya sambil
mengulurkan tangan kanannya ke arahku.
“Benar juga, aku Habi. Salam kenal,” ujarku dan
membalas uluran tangannya, sehingga kami pun berjabat tangan sejenak.
Setelah acara perkenalan yang terbilang aneh, akudan
Zahra memutuskan untuk fokus pada pelajaran di kelas.
***
Tanpa manusia sadari bahwa waktu berlalu begitu
cepat, karena manusia sibuk dengan kegiatannya sendiri sampai tidak mengenal
waktu sedikitpun. Sama halnya denganku yang selalu disibukkan dengan kegiatan
sekolah, sehingga tanpa sadar kini aku sudah tiba di apartemen lagi. Aku
merebahkan badanku di atas kasur yang hanya cukup ditempati oleh satu orang
saja. Kasur ini bermotif kotak-kotak dengan kombinasi warna hitam dan merah.
Dinding kamarku berwarna biru langit dan dipenuhi dengan aksesoris yang
bermotif kotak-kotak juga. Di samping kasur terdapat meja kecil yang di atasnya
ditempati oleh lampu tidur dan jam beker. Terdapat karpet lantai juga di
samping kasur sebagai pemanis, mungkin kata pemanis cukup aneh di telinga
sebagian orang, tapi menurutku itu tidak masalah selama aku menyukainya dan
merasa nyaman. Dan barang yang lainnya
di letakkan pada tempat yang sangat strategis, supaya ketika membutuhkannya aku
tidak terlalu sulit untuk mencarinya.
Sedang asiknya aku memandang sekeliling kamar, aku
jadi teringat sesuatu.
“Ah, Aku baru ingat. Aku kan mempunyai Tugas yang
belum sempat di kerjakan,” Aku bangun dari kasur dan berjalan menuju meja
belajar.
“Sebaiknya Aku kerjakan terlebuh dahulu, supaya
nanti bisa mengumpulkan tugasnya lebih awal,” Aku mulai mencari buku tugas yang
terletak di atas meja sebelah kiri. Setelah menemukan apa yang ku cari,
segeralah Aku mengerjakannya.
Siang mulai berganti menjadi malam, matahari pun
telah bersiap meninggalkan tempatnya dan digantikan oleh sinar bulan yang
sangat indah di pelupuk mata. Lampu-lampu bersinar di sepanjang pantai dekat
apartemenku. Semua tugas telah terselesaikan dengan baik beberapa jam yang
lalu, begitupun dengan rutinitas lainnya. Aku berdiri di balkon kamar dekat
pagar penghalang dan menikmati indahnya pemandangan malam di pesisir pantai.
Aku melihat di bawah ada beberapa orang yang sedang menikmatinya juga. Telah
lama berdiri di luar, angin malampun menyapa kulitku yang hanya dilapisi oleh
kaos pendek dan celana pendek. Karena merasa kedinginan dan tidak ingin sampai
masuk angin, Aku memutuskan kembali ke dalam kamar dan menutup pintu balkon.
Aku melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan merebahkan badanku menuju alam
lain yang disebut dengan mimpi.
Sahabat lama
***
Hari minggu merupakan hari yang paling
dinanti-nanti oleh setiap orang, karena di hari ini mereka bisa melepas penat
dari hari-hari yang melelahkan. Alasan seperti itu juga yang kini aku pakai,
mencari udara segar dengan jalan-jalan ke taman merupakan pilihan yang tepat
menurutku. Pada dasarnya taman ini merupakan tempat yang sejuk dengan
dikelilingi banyak pohon, bunga-bunga dan tanaman hias lainnya yang ikut
mempercantik pemandangan. Setelah melewati perjalanan dari apartemen dengan
berjalan kaki, itu cukup membuatku kelelahan. Akhirnya aku mencari kursi taman
untuk mengistirahatkan badanku, lalu akupun duduk di kursi taman.
Setelah melewati waktu setengah jam untuk menikmati
taman kota, Aku pun bergegas untuk pulang. Akan tetapi, ketika Aku berjalan
menuju pintu keluar taman, tak sengaja Aku melihat wanita yang belum lama ini
mengusik pikiranku, yaitu Zahra. Jadi, Aku mengurungkan niatku untuk pulang dan
berjalan menghampirinya. Ketika Aku berdiri tak jauh dari tempatnya berada, Aku
terkejut akan kehadiran seorang pria yang asing di mataku dan terlihat begitu
dekat dengan Zahra. Aku terus berdiam diri di tempat dan menatap mereka tanpa
ada rencana untuk lebih mendekat, sampai pada akhirnya pandangan kami bertemu.
Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangan kanannya, tak lama kemudian dia
berjalan mendekatiku sambil menarik tangan pria tersebut. Posisiku tetap tidak
berubah sampai mereka benar-benar berada di depan mataku.
“Habi, kamu sedang berjalan-jalan di sini juga ya?”
tanyanya dengan wajah yang terlihat bahagia. Entah mengapa Aku tak suka
melihatnya sesenang itu ketika bersama pria lain.
“Mm… ya.” Tanpa sadar aku menjawab dengan cuek.
“Tak disangka kita bisa bertemu di Taman ini dengan
alasan yang sama. Ngomong-ngomong kamu datang dengan siapa?”
Aku melirik sinis ke arah pria di samping Zahra,
lalu kembali menatap Zahra.
“Seperti yang kamu lihat aku hanya sendiri.”
“Hmm… begitu ya,” jawabnya ragu.
Sejenak suasana diantara kami menjadi canggung,
apalagi pria itu menatapku bengis. Hmh… Apa dia ingin mengajakku berantem? Pria
ini menyebalkan sekali. Kami terus
saling balas tatapan tajam, dan Zahra sepertinya merasa tidak nyaman dengan
suasana ini. Lalu dia mencoba berbicara untuk mencairkan kecanggungan diantara
kami.
“ Oh, ya. Habi perkenalkan ini sahabatku, namanya
Najmi…” Ucapnya sambil merangkul pundaknya. Hei apa-apan itu, Aku benar-benar
tidak suka melihatnya. “…Najmi, dia Habi teman baruku di SMAN 1 MERDEKA,”
lanjutnya.
Namun, Aku dan pria itu hanya diam dan tidak
merespon. Lagi-lagi Zahra merasa gusar melihat kami.
“Oh, ayolah! Apa kalian hanya akan terus diam dan
tidak saling bersalaman?”
“…”
“Baiklah, mana tanganmu Najmi…” Zahra memegang
tangan Najmi dan mengarahkan padaku. “…dan Habi, sini tangan kamu.” Diapun
melakukan hal yang sama terhadapku dan mempertemukan tangan kami berdua,
layaknya orang berjabat tangan.
“…”
“Najmi, Habi ayo bicaralah!”
“Baiklah, karena ini permintaanmu aku mau
berkenalan dengannya. Aku Najmi, senang berkenalan.” Pria ini akhirnya bicara
juga, walau aku tahu bahwa itu hanya terpaksa. Hei, Aku pun akan melakukannya
demi Zahra dan terpaksa juga.
“Hmm… Habi, senang berkenalan juga.”
Setelah acara berkenalan yang tidak layak sama
sekali, kami melepaskan tangan secepatnya. Zahra yang melihat hal itu hanya
tersenyum senang.
“Kalian kan sudah saling mengenal. Mumpung kita
masih di sini, bagaimana kalau kita jalan bertiga?” Ajaknya gembira.
“Maaf, Aku tidak bi-“ belum sempat menyelesaikan
ucapanku, dia menyela.
“Sebaiknya kalian tidak ada yang menolak ajakanku,
anggap saja ini awal pertemanan kita.”
Setelah mengucapkan hal itu Zahra menyeret kami
berdua dengan wajah yang lebih dari kata senang. Baiklah, kali ini Aku menyerah
dan mengikuti kemana dia mengajakku bersama Najmi.
Pada akhirnya, kami menghabiskan waktu seharian
dengan mengelilingi Kota ini, tapi hanya sebagian saja. Dari mulai kami makan
baso di pinggir jalan, lalu melihat-lihat aksesoris wanita, tentunya atas
keinginan Zahra yang sedikit memaksa, sampai kami berakhir di tepi danau yang
tempatnya tak jauh dari Taman Kota. Kami duduk bertiga, Zahra duduk di tengah,
Aku di samping Kanannya, dan Najmi di samping kirinya. Walau sebenarnya Zahra
yang lebih terlihat antusias daripada Aku dan Najmi. Tapi, Aku cukup senang juga
telah melewati hari ini. Karena selama hidup, Aku baru pertama kali melakukan
hal seperti ini bersama orang lain.
“Kapan-kapan kita bersenang-senang seperti ini lagi
ya! Dan Aku rasa kalian akan jadi orang yang paling berharga bagiku, yaitu
sebagai sahabat.”
Sahabat ya? Aku dan Najmi pun melirik ke arahnya.
Awalnya Aku ingin mengelak, tapi setelah melihatnya begitu bahagia, Aku pun tak
jadi melakukannya dan hanya menjawab.
“Ya, sahabat.”
Disamping itu Najmi sepertinya sama akan membantah,
tapi setelah Aku menjawab itu, dia sependapat dengan apa yang Aku ucapkan.
“Benar, sahabat.”
Itulah awal kebersamaan kami dan mengakhiri hari
ini dengan sebuah persahabatan. Ya, hanya sahabat tidak lebih.
***
Satu minggu telah berlalu, selama itupun Aku telah
melewati hari-hari bersama sahabat baruku. Lucunya saat kebersamaan kami, Najmi
dan Habi selalu berdebat mengenai hal yang benar-benar sepele. Seperti saat aku
minta bantuan pada mereka untuk mengerjakan tugas, mereka bersikeras rebutan
untuk mengerjakannya sendiri. Aku melihatnya hanya tertawa dan pada akhirnya
harus Akulah yang menengahi. Walaupun hanya Aku dan Habi yang sering
menghabiskan waktu akhir-akhir ini, itupun karena kami berada di sekolah yang
sama. Dan terkadang hal itu membuat Najmi marah padaku, tapi karena itu juga
membuat kami jadi semakin dekat dan berbagi perhatian. Sebenarnya Najmi adalah
sahabat masa kecilku di Bandung. Dulunya kami begitu dekat dan sering kali kami
menginap bersama di rumah Aku atau dia secara bergiliran. Orang tua kami pun
menjadi saling mengenal dan berteman baik. Tapi sayangnya kebersamaan Aku dan
Najmi harus terpisahkan, karena Najmi harus pindah ke Jakarta mengikuti orang
tuanya. Aku marah, menangis, dan tidak mau makan apapun selama tiga hari. Semua
itu wajar menurutku, karena pada saat itu Aku masih menginjak di bangku SD dan
benar-benar masih polos untuk bisa mengerti keadaan seperti itu. Tapi, pada
akhirnya Aku mengerti dan bisa menjalankan kehidupanku dengan baik. Lalu Aku
bertekat akan menyusul ke tempat Najmi berada. Dan sekaranglah tepatnya Aku
bisa bertemu kembali dengan Najmi, walaupun karena kepindahan pekerjaan orang
tuaku. Setidaknya aku bahagia bisa bersama sahabat masa kecilku. Kemudian Aku
bertemu dengan Habi dalam sebuah tabrakan yang tidak disengaja, di kelas yang
sama, dan di meja yang sama. Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa bertemu
sahabat lama dan mendapatkan sahabat baru.
Aku menurup buku harianku yang telah menjadi tempat
untukku bercerita. Buku itu ku letakkan di tempat rahasia. Aku melangkahkan
kaki ke luar kamar menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas.
Ketika tiba di dapur, Aku melihat Ibu sedang memasak sesuatu.
“Hmm… wanginya. Apa yang sedang Ibu buat? Wanginya
seperti ikan,” tanyaku penasaran.
“Benar sayang, ibu sedang memasak ikan goreng. Hari
ini ayahmu akan pulang cepat, jadi Ibu memasak lebih awal.”
“Oh… Tumben ayah akan pulang cepat, biasanya selalu
sore.”
“Mmm… Entahlah, ayahmu tidak mengatakan apapun
selain itu. Mungkin saja kerjaannya tidak terlalu banyak sayang.”
“Ya, benar.” Jawabku dengan senyuman.
“Sayang, siapa teman baru kamu itu? Ibu lupa
namanya.”
“Oh, namanya Habi Bu. Kanapa?”
“Apa dia teman yang baik?”
“Menurutku dia orang yang baik, tentunya selama seminggu
ini Aku mengenalnya.”
“Syukurlah Ibu senang kamu bisa mendapat teman yang
baik. Awalnya Ibu khawatir kamu akan sulit menemukan teman yang baik di kota
Jakarta ini.”
“Ibu jangan khawatir, dia bukan hanya teman saja
melainkan sudah menjadi sahabatku dengan Najmi.” Ucapku meyakinkan.
“Benarkah? Ibu senang mendengarnya.”
“Mmm…” balasku tersenyum.
Setelah usainya perbincangan di antara kami, Aku
langsung mengambil air minum di dalam kulkas dan menutupnya.
“Bu, ada yang bisa Aku bantu?”
“Ya, ada sayang. Tolong letakkan ikan ini di atas
meja makan.”
“Baiklah.”
Akupun menerima ikan yang sudah berada di piring
dan meletakkannya di atas meja makan yang berada di ruang makan, tepatnya di
balik tembok dapur. Sepertinya ibu telah selesai memasaknya, terbukti dia telah
datang ke tempatku berada dengan membawa tumis kangkung beserta sambal.
“Ibu, sudah selesai?”
“Sudah sayang.”
“Kalau begitu Aku masuk ke kamar dulu ya.”
“Ya, sayang. Nanti Ibu panggil jika ayahmu sudah
datang.”
“Oke.”
Aku berjalan ke kamar yang berada di samping ruang
tamu. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur setelah tiba di kamar. Tak lama mimpi
datang menyambutku untuk bergabung.
***
Di sebuah kamar yang terbilang sangat luas jika
ditempati oleh satu orang penghuni, dari designnya sudah sangat jelas bahwa
kamar itu adalah milik seorang pemuda. Pemuda yang bernama Najmi dan tidak lama
ini telah menjalani ikatan sebagai sahabat bagi Zahra dan Habi. Walaupun pada
kenyataannya di balik ikatan itu terdapat perasaan yang terpendam dari dua
pemuda itu terhadap Zahra. Perasaan yang tidak seharusnya mereka miliki dan
juga simpan. Karena jika perasaan itu mereka ungkapkan, akan terjadi keretakan
dari ikatan tersebut dan hal itu juga bisa membuat Zahra bersedih.
“Aku heran, kenapa Zahra begitu cepat mendapat
teman baru di Sekolahnya. Dan lagi dia seorang pria, seharusnya akulah
satu-satunya sahabat pria yang hanya dia miliki. Tapi dalam satu hari yang
tidak aku ketahui, Zahra langsung begitu akrab dengannya. Membuatku iri saja.”
Najmi terus saja meracau mengenai Habi teman baru
Zahra, bahkan sekarang telah menjadi sahabat baru baginya dan Zahra. Najmi
hanya merasa iri dengan kehadiran Habi yang begitu cepatnya dapat diterima
Zahra, sedangkan dia bersahabat sudah lama. Kalau saja dia bukan sahabat masa
kecil Zahra, belum tentu dia dapat menjadi sahabatnya dan bahkan mungkin
bertemu pun tidak. Dan kalau bukan karena keinginan Zahra pasti Najmi tidak
mungkin dapat menerima dengan baik persahabatan yang konyol ini.
“Ini konyol, yang benar saja aku harus menerima
kehadiran orang asing di kehidupanku dengan waktu singkat. Haaah… Zahra,
sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan. Apa kamu belum cukup mempunyai satu
sahabat saja yaitu aku, sahabat dari masa kecilmu dan begitu berarti bagimu. Dan
tentu kita telah melewati hal-hal yang menyenangkan berdua, walaupun kita harus
terpisah karena perpindahan orang tuaku. Tapi hal tersebut tidak menutup
kemungkinan untuk aku dapat selalu membahagiakanmu.”
Tidak hentinya Najmi merasa kesal mengenai kehadiran
Habi sampai terdengar suara handphone berdering di seluruh ruangan kamar. Hal
itu menandakan bahwa ada sebuah panggilan masuk. Untuk memastikan siapa yang
menelponnya malam hari sehingga mengganggunya.
“Eh, Zahra.”
Senyumnya merekah setelah mengetahui siapa yang
menelepon dan tidak menunggu lama Najmi segera menjawab panggilan itu.
“Hallo!”
“Najmi, kenapa lama sekali kamu lama sekali
menjawab panggilan dariku?”
“Haha… Maaf. Tadi aku sedikit terhanyut dengan
duniaku sendiri.”
“Huh, aku heran sejak kapan kamu jadi suka melamun
begitu?”
“Sejak kamu hadir kembali di kehidupanku.” Sengaja
membuat nada yang serius.
“Heeii… Sejak kapan kamu suka gombal?” Ucapnya
sedikit kesal.
“Sejak pikiranku dipenuhi oleh kamu.”
Najmi terus menyerang dengan gombalan yang sengaja
untuk ngerjain Zahra. Terkadang Najmi jadi orang yang paling jail jika hanya
berdua dengan Zahra. Pikirnya lucu jika melihat ekspresi yang tersirat di
wajahnya, tapi sayang dia tidak melihatnya secara langsung dan hal itu
membuatnya tertawa dalam diam.
“Aku putuskan sambungannya. Daa-“ belum sempat
menyelesaikan ucapannya langsung saja disela oleh Najmi.
“Tunggu dulu. Oh, ayolah aku hanya bergurau sobat.
Hahaha… Jangan marah!”
“Habisnya, kamu jadi menyebalkan begitu. Dan aku
nelpon bukan untuk mendengar gombalan darimu.”
“Hahaha… Baiklah, baiklah, aku minta maaf Zahra.
Tahu tidak? Kamu yang sedang ngambek sangat terlihat lucu.”
Helaan napas panjang terdengara dari handphone yang
digenggam oleh Najmi. Sepertinya Zahra mulai merasa jengah mendengar candaan
yang telah dilontarkan oleh sahabatnya ini, tapi sebenarnya senyum tidak lepas
dari wajahnya.
“Ya, ya, ya, kita sudahi saja candaan ini. Langsung
saja pada inti pembicaraan, sebenarnya aku menghubungimu karena ingin
mengundangmu untuk hadir di event pagelaran seni di sekolahku yang akan
diselenggarakan hari minggu besok yang eventnya dibuka untuk umum. Bagaimana?”
Mendengar hal itu Najmi diam dan berpikir sejenak.
Baiknya dia harus menerima undangan itu atau lebih baik menolak saja. Jika dia
menerima pasti beresiko bertemu dengan sahabat barunya Zahra dan melihat
kedekatan mereka yang akan membuatnya kesal. Tapi jika menolak maka Najmi akan
menyia-nyiakan kesempatan ini karena beberapa hari ke depan dia akan disibukkan
dengan persiapan olimpiade matematikanya, sudah pasti mereka sulit untuk
bertemu. Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia dapat keputusan yaitu
menerima undangan dari Zahra.
“Maaf menunggu lama. Tadi aku tersesat dialam yang
bernama berpikir.”
“Ya ampun, kamu ini ada-ada saja. Lalu keputusannya
bagaimana?”
“Baiklah, nanti aku akan mengusahakan datang ke
sekolahmu. Ya, anggap saja refreshing sebelum kesibukan aku mempersiapkan
olimpiade matematika.”
“Apa olimpiade? Kenapa kamu tidak menceritakan
apapun kepadaku?”
“Maaf, aku hanya belum sempat berbicara. Jadi
mungkin nanti saat kita bertemu di sekolahmu aku akan menceritakannya.”
“Oke! Akan aku tagih nanti. Kalau begitu sudah ya.
Bye...”
“Mmm…Bye…”
Ucapan itu mengakhiri panggilan mereka. Dan dia
melihat waktu yang ditampilkan di layar handphone yang ternyata sudah
menunjukan pukul sepuluh malam.
“Sebaiknya aku cepat tidur agar besok tubuhku
terasa fit.”
Najmi pun segera merebahkan tubuhnya di atas tempat
tidur yang cukup besar dan sangat nyaman. Dia melihat ke langit-langit kamar
sambil menarik selimut dan pelan-pelan menutup kedua matanya, dunia mimpi akan
menyambutnya.
Bersambung... :D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar