meta http-equiv="refresh" content="0;URL=http://trik-tips-tutorial.blogspot.com"/> Hana Habibah (Senri): Diantara Kita
Powered By Blogger

Senin, 25 Januari 2016

Diantara Kita


Sebuah Pertemuan

Suara ombak terdengar ribut saat tiba di tepi pantai, begitu terhempas oleh angin. Ku lihat jelas pemandangan indah ini, hampir ku nikmati setiap pagi. Saat ini, Aku duduk dengan beralaskan pasir putih nan halus. Aku memakai kaos biru muda dan boxer hitam, layaknya orang baru bangun tidur. Karena setelah aku bangun tidur serta melakukan rutinitas di pagi hari, Aku pasti menyempatkan waktu sejenak untuk menghirup udara segar di pantai ini, jaraknya tak jauh dari Apartemenku berada. Ketika sedang terhanyut dengan keindahan di depan mata, aku merasakan kehadiran seseorang yang telah berdiri di belakangku. Akupun memalingkan wajahku kearah sosok itu, sekedar untuk memastikan.
“Tuan Habi, maaf Saya menggangu. Tapi ini waktunya Tuan untuk pergi sekolah. Mengenai seragam dan sarapan sudah Saya siapkan,” ucap seorang paman yang ku kenal, bahkan sangat.
Benar saja Paman Uta, dia pelayan sekaligus pengasuhku sejak aku belum mengenal tulisan sampai detik ini juga. Aku kembali mengalihkan pandanganku menghadap lautan.
“Baik paman, sebentar lagi. Nanti aku pasti akan bersiap-siap,” jawabku sekenanya tanpa mengeluarkan ekspresi.
“Jika begitu, Saya akan menyiapkan motor untuk Tuan.”
“Tidak Paman, sudah berapa kali Aku bilang, kalau Aku tidak mau naik kendaraan itu. Paman juga sudah tau bukan, keinginanku agar dikenal sebagai orang biasa dan menyembunyikan identitas sebagai anak designer terkenal,” ucapku membantah.
“Tapi Tuan, ini perintah langsung dari Nyonya supaya Tu-,“ sebelum ucapannya diselesaikan Aku langsung memotongnya.
“Cukup Paman, Aku tidak ingin ada bantahan, mengenai Ibu nanti Aku akan bicara padanya.”
“Baik Saya paham Tuan, Saya permisi.”
Aku hanya membalas dengan anggukan halus, pertanda menyetujui. Setelah paman pergi, Aku melamun mengenai kenyataan bahwa Aku adalah anak dari wanita yang mempunyai perekonomian menengah ke atas. Karena Ibuku bekerja sebagai designer terkenal di negeri ini. Walau begitu, Ibu adalah sosok wanita yang tetap hebat di mataku, karena Ibu selalu memprioritaskan Aku dan sangat menyayangiku. Hampir semua aset yang Ibu miliki, mengatasnamakan Aku, Habi Qolbu. Padahal Aku sendiri tidak menginginkan apa-apa kecuali kasih sayangnya.
Ketika akan duduk di bangku SMA, Aku memutuskan untuk tinggal di Apartemen yang jauh dari rumah Ibu, supaya Aku dapat hidup lebih mandiri dan tidak selalu bergantung pada kekayaan Ibu. Awalnya Ibu melarang, tapi karena aku tetap bersikeras dengan keinginanku. Pada akhirnya Ibu menginjinkan, namun dengan syarat ditemani Paman Uta dan harus membawa satu transport. Dan terpaksa aku menyetujuinya dan memilih motor sport untuk dibawa bersamaku, sampai saat ini aku telah tinggal di Apartemen bersama Paman Uta.  Akupun tersadar dari lamunanku, sampai tak terasa Aku telah melewati waktu selama lima menit. Dan aku memutuskan untuk kembali ke Apartemen, lalu bersiap pergi ke sekolah.
Kulangkahkan kaki ini ke dalam Apartemen sampai tiba di dalam kamarku. Aku memakai seragam putih abu yang telah Paman siapkan dan tak lupa jas pengenal sekolahku. Setelah semuanya rapi yang terlihat dari pantulan cermin, aku bergegas sarapan roti dan susu yang sudah tersedia di atas meja makan. Selesai sarapan, Aku melihat waktu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Aku mencari keberadaan Paman di segala arah pandangku, tapi tak ku lihat batang hidungnya sedikitpun, mungkin sedang keluar. Sehingga Aku pergi sekolah tanpa berpamitan.
***
Pemandangan yang sudah asing di mataku ketika menginjakan kaki di gerbang SMAN 1 Merdeka, Jakarta. Banyak siswa yang memasuki gedung sekolah. Ada yang bercengkrama, membaca novel sambil berjalan, dan ada pula yang bersikap acuh tak acuh. Haaahh… sungguh pemandangan yang sudah menjadi santapan setiap pagi. Kini aku mulai merasa bosan dengan keadaan seperti ini, tidak adakah yang dapat membuatku tertarik dan bersemangat. Seperti intan permata yang indah dan langka, sehingga sulit untukku dapatkan. Karena selama lebih satu tahun ini, aku belum pernah menemukan sosok tersebut, semua yang kutemui terlalu biasa saja.
Duk…
“Aduuuhh…”
Asiknya melamun ternyata membuatku bertabrakan dengan seseorang sehingga menyebabkan dia sampai terjatuh. Hal itu menyadarkanku dari acara melamun. Lalu aku melihat siapa yang kutabrak, ternyata dia seorang wanita. Duuuh… cerobohnya aku.
“Ma-maafkan aku! …Biar ku bantu kamu berdiri.”
Aku mengulurkan tangan kanan ke hadapannya sehingga dia menerima uluran tanganku. Langsung saja aku tarik tangannya sampai dia berdiri sepenuhnya. Kemudian dia menatap kearahku dengan ekspresi yang sulit untukku baca. Tak dapat di percaya aku terpana sejenak oleh matanya yang terlihat berwarna coklat bening, sehingga satu kata yang terlintas di benakku.
“Indah.”
“Apa? Apa yang kamu katakan tadi?” Pertanyaannya menyadarkanku dari tatapan yang tak sengaja tadi.
“M-m… Tidak, bukan apa-apa. Oh, iya. Kamu tidak apa-apakan? Maaf, tadi aku benar-benar tidak melihatmu berjalan berlawanan arah denganku,” kataku menyesal.
“Aku tidak apa-apa. Saya juga bersalah, karena berjalan terburu-buru dan tidak berhati-hati. Tapi maaf bisa lepaskan tanganmu dari tangan saya?” ucapnya dengan senyum canggung.
“Ah, maaf… maaf… aku lupa.-” Secepatnya aku melepaskan tanganku dari tangannya dan itu membuatku salah tingkah. Tapi, karena aku jarang berekspresi seperti itu, aku dapat menyembunyikannya dengan wajah datarku. “-syukurlah jika kamu baik-baik saja,” ucapku melanjutkan.
“Ah, saya baru ingat harus pergi ke Ruang Kepala Sekolah. Kalau begitu saya pergi dulu, daahh…”
Belum sempat aku berbicara dia sudah pergi menjauh, tinggalah aku sendiri yang menatap kepergiannya. Tapi dari kejauhan dia berbalik dan mengatakan sesuatu sambil membungkukan kepala sedikit.
“Terimakasih!”
Setelah mengucapkan kata itu dia kembali pergi dengan jalan terburu-buru dan sedikit berlari. Aku pun tersenyum simpul melihatnya.
“Siapa gerangan wanita yang memiliki mata indah itu? Apa mungkin dia siswa baru di sekolah ini. Karena aku baru melihat kehadirannya. Hmm… entahlah.” Aku hanya dapat berbicara dengan udara tanpa ada sebuah jawaban pasti.
Sepertinya kini aku telah tertarik padanya. Bukan hanya matanya yang indah, tapi wajahnya pun cantik, sehingga membuatku tak ingin berpaling darinya. Tapi sayang, aku tak sempat menanyakan siapa namanya. Semoga saja aku dapat berjumpa kembali dengannya.
“Sebaiknya aku pergi ke kelas sebelum bel berbunyi.” Aku pun memutuskan pergi ke kelas dan berbelok di tikungan antara kelas satu dengan yang lainnya.
***
Seorang wanita berseragam putih abu sedang berdiri di depan pintu yang bertuliskan Ruang Kepala Sekolah. Dia mengetuk pintu tersebut dengan berhati-hati. Tok… Tok… Tok…
“Permisi, boleh saya masuk?”
Ketukan itu terdengar sampai ke dalam ruangan itu, sehingga penghuni ruangan itu menjawabnya.
“Ya, Masuklah!”
Krieett…
Pintu pun terbuka pelan dan munculah wanita yang berseragam putih abu tadi dan menutup pintu kembali. Ceklek... Kemudian dia berjalan ke arah meja tempat duduknya wanita dewasa yang diketahui sebagai Kepala Sekolah. Dia membungkukan badannya sedikit  pertanda rasa hormat.
“Permisi Bu, saya siswa baru pindahan dari Bandung,” ujarnya memperkenalkan diri.
“Hmm… Jadi kamu siswa baru pindahan itu. Kalau saya tidak salah, nama kamu Zahra Ahmar, benar?” tanya Kepala Sekolah.
“Iya, benar nama saya Zahra.”
“Baiklah, kalau begitu di hari pertama kamu masuk. Saya akan menempatkan kamu di kelas Sebelas IPA Satu. Karena dari data-data nilai kamu di sekolah sebelumnya kamu mendapat nilai yang baik sekali.”
“Terimakasih Bu, tapi saya belum mengetahui tata letak kelasnya.”
“Jangan khawatir, saya akan panggilkan wali kelas kamu nanti untuk mengantarkanmu.”
Seperti yang dikatakannya tadi, Kepala Sekolah menekan sebuah tombol khusus yang berada di atas meja sebelah kanan. Dilihat dari bentuknya, dapat dipastikan bahwa tombol itu untuk memanggil sebagai pengganti telepon genggam.
“Pak Bito sekarang tolong datang ke ruangan saya.”
Hanya sebuah alat untuk memanggil dan tidak bisa untuk berkomunikasi, tapi terdengar suara bip…bip… hal itu menandakan bahwa panggilan diterima dan perintah segera dilaksanakan.
Tidak harus menunggu lama, hanya sekitar dua menit terdengar suara ketukan dari arah pintu.
Tok… Tok… Tok…
“Masuklah Pak Bito.”
Lalu pintu terbuka dan masuklah pria berperawakan tinggi dan tegap yang memakai seragam guru.
“Maaf, apa yang Ibu perlukan sehingga memanggil saya?” tanya orang yang bernama Pak Bito.
“Pak Bito, dia adalah siswa baru yang akan masuk ke kelas anda. Namanya Zahra, pindahan dari Bandung. Tolong bawa sertakan dia bersama anda datang ke kelas Sebelas IPA Satu. Semua data-data mengenai Zahra nanti saya persiapkan.”
“Baiklah Bu, saya mengerti. Kalau begitu saya permisi.”
Lalu pak Bito pun undur diri dari hadapan Kepala Sekolah dan menghampiri Zahra.
“Zahra, mari ikut dengan saya.”
“Baik Pak.”
Zahra menghadap ke arah Kepala Sekolah dan membungkuk hormat untuk pamit undur diri. Setelah itu, dia mengikuti Pak Bito untuk pergi ke kelas barunya. Kelas yang menantinya akan sebuah perasaan dari seorang pria, entah itu teman, sahabat, maupun cinta sejatinya.
***
Pemandangan dalam kelas ini tak berubah setiap harinya. Dikala guru belum menginjakkan kakinya di kelas ini, semua siswa selalu disibukkan dengan kegiatan masing-masing tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Padahal yang sering aku dengar ketika tingkat SMP, banyak yang mengatakan bahwa SMA itu tingkatan yang paling menyenangkan. Baik dari kejahilan, keributan, percintaan, pelajaran, persahabatan, maupun tentang hal menyenangkan lainnya. Tapi apa yang aku rasakan saat ini sangatlah berbeda, semua siswa yang berada di kelas ini selalu serius dan membuatku jenuh. Bisa dibilang mereka itu seperti zombie, kaku sekali. Semakin lama aku bergaul bersama mereka bisa jadi aku akan tertular dengan kebiasaan seperti itu.
Saat ini aku duduk di bangku yang letaknya tepat di barisan dekat pintu, ketiga dari depan dan kedua dari belakang dekat dengan jendela. Bangku di sampingku masih terlihat kosong, karena aku merasa belum ada yang membuatku nyaman menjadi teman dekatku untuk menghuni bangku tersebut. Atau mungkin semua teman di sini terlalu acuh tak acuh terhadap teman lainnya, begitupun denganku. Ada kalanya aku dan teman sekelas bekerjasama, itupun ketika sedang mengerjakan tugas kelompok, selebihnya aku dan mereka selalu sendiri-sendiri. Setiap hari aku berharap ada seorang yang dapat merubah suasana kelas ini. Ngomong-ngomong aku jadi teringat dengan wanita yang kutemui tadi, apalagi dengan wajahnya yang cantik, rambutnya yang panjang, dan tidak lupa dengan matanya yang terlihat begitu indah. Siapa gerangan dia? Jika benar dia siswa baru, aku harap dia akan sekelas denganku.
Ku palingkan pandanganku dari kelas ke arah jendela, pertama yang ditangkap oleh penglihatanku adalah lapangan basket yang begitu sepi. Karena saat ini semua siswa sedang berada di kelasnya masing-masing dan mengikuti kegiatan pembelajaran.
“Oh, iya… kenapa pak Bito belum datang? Padahal ini sudah lewat jam 07. 15 menit. Tidak biasanya beliau datang terlambat,” gumamku heran. Tanpa berpaling dari pemandanganku, aku terhanyut dengan pemikiranku.
Langkah kaki terdengar dari arah pintu, dua orang masuk ke dalam kelas yaitu seorang pria berpakaian guru yang berpostur tinggi dan tegap beserta seorang wanita berseragam putih abu. Pria tersebut dikenal sebagai pak Bito dan wanita itu seorang siswa baru. Di depan kelas pak Bito menyapa semua siswa dan memperkenalkan siswa tersebut kepada mereka.
“Selamat pagi anak-anak! Hari ini kelas kita kedatangan siswa baru baru, semoga kalian dapat menerima dengan baik.”
“ Nah, Zahra. Silahkan kamu perkenalkan diri!” Ucap pak Bito dengan ramah.
“Baik. Hallo teman-teman! Perkenalkan nama saya Zahra, saya siswa pindahan dari Bandung. Salam kenal semuanya!”
Dengan senyumnya yang manis Zahra memperkenalkan. Tapi, sungguh tidak disangka tidak ada satupun siswa dihadapannya yang tersenyum. Mereka semua berwajah datar dan tidak menunjukan ekspresi yang menyambut. Hal itu membuat Zahra bersedih, tapi pak Bito yang paham dengan keadaan langsung mengintrupsi Zahra untuk duduk.
“Ekhemm… Zahra lebih baik kamu duduk. Silahkan pilih tempat yang akan kamu duduki! Bangku yang masih kosong ada dua, yaitu disebelah kiri paling belakang atau di sebelah kanan, kedua dari belakang?”
Zahra pun mengarahkan pandangannya menuju tempat yang ditunjukkan oleh pak Bito. Dan akhirnya dia melihat ke tempat di mana seseorang duduk dengan wajah menghadap jendela, tepatnya sebelah kanan kedua dari belakang. Ketika melihatnya, Zahra seperti mengenal orang tersebut. Sehingga dia memutuskan untuk duduk di sampingnya.
“Baik, pak saya akan duduk di sebelah kanan kedua dari belakang,” Jawabnya senang.
“Silahkan!”
Zahra pun melangkahkan kakinya ke tempat duduk yang telah dipilihnya tadi.
“Bolehkah saya duduk di samping kamu?”
Aku mendengar seseorang berujar kepadaku, bukan akan tetapi dia bertanya. Karena aku mendengar sekilas, aku pun jawab dengan sekenanya.
“Ya, boleh.”
“Apa pemandangan di luar begitu menarik, sehingga kamu tak melirik sedikitpun pada orang yang berbicara kepadamu?”
Terdengar suara lagi dari sampingku. Eh, tunggu. Seperti suara seorang wanita, siapa? Karena penasaran aku memutuskan untuk menoleh ke arah suara, dan hora… Ternyata dia wanita yang tadi masuk pikiranku.
“Kamu?’
“Hallo! Kita ketemu lagi.”
“T-tapi kamu kenapa bisa ada di kelasku?”
Kehadirannya sangat membuatku terkejut, sampai aku lupa untuk memgedipkan mata. Benarkan, dia itu seperti hantu! Sekarang saja dia tiba-tiba berada di hadapanku.
“Karena saya siswa baru di Sekolah ini dan tidak disangka saya ditempatkan di kelas yang sama dengan kamu.”
Aku masih menatapnya tak percaya, ternyata harapanku menjadi kenyataan. Sungguh hari yang sangat beruntung, terimakasih Ya Allah.
“Hei, kamu baik-baik saja?”
Tidak, lagi-lagi aku melamun. Ini sangat memalukan, pasti kesan pertamaku sangat aneh di matanya. Saat aku tersadar, dia sedang melambaikan tangannya di depan wajahku.
“Ah, aku baik-baik saja.”
“Syukurlah. Oh, iya… Kita belum saling mengenal nama satu sama lain. Nama kamu siapa? Kalau saya Zahra,” ucapnya sambil mengulurkan tangan kanannya ke arahku.
“Benar juga, aku Habi. Salam kenal,” ujarku dan membalas uluran tangannya, sehingga kami pun berjabat tangan sejenak.
Setelah acara perkenalan yang terbilang aneh, akudan Zahra memutuskan untuk fokus pada pelajaran di kelas.
***
Tanpa manusia sadari bahwa waktu berlalu begitu cepat, karena manusia sibuk dengan kegiatannya sendiri sampai tidak mengenal waktu sedikitpun. Sama halnya denganku yang selalu disibukkan dengan kegiatan sekolah, sehingga tanpa sadar kini aku sudah tiba di apartemen lagi. Aku merebahkan badanku di atas kasur yang hanya cukup ditempati oleh satu orang saja. Kasur ini bermotif kotak-kotak dengan kombinasi warna hitam dan merah. Dinding kamarku berwarna biru langit dan dipenuhi dengan aksesoris yang bermotif kotak-kotak juga. Di samping kasur terdapat meja kecil yang di atasnya ditempati oleh lampu tidur dan jam beker. Terdapat karpet lantai juga di samping kasur sebagai pemanis, mungkin kata pemanis cukup aneh di telinga sebagian orang, tapi menurutku itu tidak masalah selama aku menyukainya dan merasa nyaman.  Dan barang yang lainnya di letakkan pada tempat yang sangat strategis, supaya ketika membutuhkannya aku tidak terlalu sulit untuk mencarinya.
Sedang asiknya aku memandang sekeliling kamar, aku jadi teringat sesuatu.
“Ah, Aku baru ingat. Aku kan mempunyai Tugas yang belum sempat di kerjakan,” Aku bangun dari kasur dan berjalan menuju meja belajar.
“Sebaiknya Aku kerjakan terlebuh dahulu, supaya nanti bisa mengumpulkan tugasnya lebih awal,” Aku mulai mencari buku tugas yang terletak di atas meja sebelah kiri. Setelah menemukan apa yang ku cari, segeralah Aku mengerjakannya.
Siang mulai berganti menjadi malam, matahari pun telah bersiap meninggalkan tempatnya dan digantikan oleh sinar bulan yang sangat indah di pelupuk mata. Lampu-lampu bersinar di sepanjang pantai dekat apartemenku. Semua tugas telah terselesaikan dengan baik beberapa jam yang lalu, begitupun dengan rutinitas lainnya. Aku berdiri di balkon kamar dekat pagar penghalang dan menikmati indahnya pemandangan malam di pesisir pantai. Aku melihat di bawah ada beberapa orang yang sedang menikmatinya juga. Telah lama berdiri di luar, angin malampun menyapa kulitku yang hanya dilapisi oleh kaos pendek dan celana pendek. Karena merasa kedinginan dan tidak ingin sampai masuk angin, Aku memutuskan kembali ke dalam kamar dan menutup pintu balkon. Aku melangkahkan kaki menuju tempat tidur dan merebahkan badanku menuju alam lain yang disebut dengan mimpi.




***


   Sahabat lama

Hari minggu merupakan hari yang paling dinanti-nanti oleh setiap orang, karena di hari ini mereka bisa melepas penat dari hari-hari yang melelahkan. Alasan seperti itu juga yang kini aku pakai, mencari udara segar dengan jalan-jalan ke taman merupakan pilihan yang tepat menurutku. Pada dasarnya taman ini merupakan tempat yang sejuk dengan dikelilingi banyak pohon, bunga-bunga dan tanaman hias lainnya yang ikut mempercantik pemandangan. Setelah melewati perjalanan dari apartemen dengan berjalan kaki, itu cukup membuatku kelelahan. Akhirnya aku mencari kursi taman untuk mengistirahatkan badanku, lalu akupun duduk di kursi taman.
Setelah melewati waktu setengah jam untuk menikmati taman kota, Aku pun bergegas untuk pulang. Akan tetapi, ketika Aku berjalan menuju pintu keluar taman, tak sengaja Aku melihat wanita yang belum lama ini mengusik pikiranku, yaitu Zahra. Jadi, Aku mengurungkan niatku untuk pulang dan berjalan menghampirinya. Ketika Aku berdiri tak jauh dari tempatnya berada, Aku terkejut akan kehadiran seorang pria yang asing di mataku dan terlihat begitu dekat dengan Zahra. Aku terus berdiam diri di tempat dan menatap mereka tanpa ada rencana untuk lebih mendekat, sampai pada akhirnya pandangan kami bertemu. Dia tersenyum padaku dan melambaikan tangan kanannya, tak lama kemudian dia berjalan mendekatiku sambil menarik tangan pria tersebut. Posisiku tetap tidak berubah sampai mereka benar-benar berada di depan mataku.
“Habi, kamu sedang berjalan-jalan di sini juga ya?” tanyanya dengan wajah yang terlihat bahagia. Entah mengapa Aku tak suka melihatnya sesenang itu ketika bersama pria lain.
“Mm… ya.” Tanpa sadar aku menjawab dengan cuek.
“Tak disangka kita bisa bertemu di Taman ini dengan alasan yang sama. Ngomong-ngomong kamu datang dengan siapa?”
Aku melirik sinis ke arah pria di samping Zahra, lalu kembali menatap Zahra.
“Seperti yang kamu lihat aku hanya sendiri.”
“Hmm… begitu ya,” jawabnya ragu.
Sejenak suasana diantara kami menjadi canggung, apalagi pria itu menatapku bengis. Hmh… Apa dia ingin mengajakku berantem? Pria ini menyebalkan sekali.  Kami terus saling balas tatapan tajam, dan Zahra sepertinya merasa tidak nyaman dengan suasana ini. Lalu dia mencoba berbicara untuk mencairkan kecanggungan diantara kami.
“ Oh, ya. Habi perkenalkan ini sahabatku, namanya Najmi…” Ucapnya sambil merangkul pundaknya. Hei apa-apan itu, Aku benar-benar tidak suka melihatnya. “…Najmi, dia Habi teman baruku di SMAN 1 MERDEKA,” lanjutnya.
Namun, Aku dan pria itu hanya diam dan tidak merespon. Lagi-lagi Zahra merasa gusar melihat kami.
“Oh, ayolah! Apa kalian hanya akan terus diam dan tidak saling bersalaman?”
“…”
“Baiklah, mana tanganmu Najmi…” Zahra memegang tangan Najmi dan mengarahkan padaku. “…dan Habi, sini tangan kamu.” Diapun melakukan hal yang sama terhadapku dan mempertemukan tangan kami berdua, layaknya orang berjabat tangan.
“…”                                                                 
“Najmi, Habi ayo bicaralah!”
“Baiklah, karena ini permintaanmu aku mau berkenalan dengannya. Aku Najmi, senang berkenalan.” Pria ini akhirnya bicara juga, walau aku tahu bahwa itu hanya terpaksa. Hei, Aku pun akan melakukannya demi Zahra dan terpaksa juga.
“Hmm… Habi, senang berkenalan juga.”
Setelah acara berkenalan yang tidak layak sama sekali, kami melepaskan tangan secepatnya. Zahra yang melihat hal itu hanya tersenyum senang.
“Kalian kan sudah saling mengenal. Mumpung kita masih di sini, bagaimana kalau kita jalan bertiga?” Ajaknya gembira.
“Maaf, Aku tidak bi-“ belum sempat menyelesaikan ucapanku, dia menyela.
“Sebaiknya kalian tidak ada yang menolak ajakanku, anggap saja ini awal pertemanan kita.”
Setelah mengucapkan hal itu Zahra menyeret kami berdua dengan wajah yang lebih dari kata senang. Baiklah, kali ini Aku menyerah dan mengikuti kemana dia mengajakku bersama Najmi.
Pada akhirnya, kami menghabiskan waktu seharian dengan mengelilingi Kota ini, tapi hanya sebagian saja. Dari mulai kami makan baso di pinggir jalan, lalu melihat-lihat aksesoris wanita, tentunya atas keinginan Zahra yang sedikit memaksa, sampai kami berakhir di tepi danau yang tempatnya tak jauh dari Taman Kota. Kami duduk bertiga, Zahra duduk di tengah, Aku di samping Kanannya, dan Najmi di samping kirinya. Walau sebenarnya Zahra yang lebih terlihat antusias daripada Aku dan Najmi. Tapi, Aku cukup senang juga telah melewati hari ini. Karena selama hidup, Aku baru pertama kali melakukan hal seperti ini bersama orang lain.
“Kapan-kapan kita bersenang-senang seperti ini lagi ya! Dan Aku rasa kalian akan jadi orang yang paling berharga bagiku, yaitu sebagai sahabat.”
Sahabat ya? Aku dan Najmi pun melirik ke arahnya. Awalnya Aku ingin mengelak, tapi setelah melihatnya begitu bahagia, Aku pun tak jadi melakukannya dan hanya menjawab.
“Ya, sahabat.”
Disamping itu Najmi sepertinya sama akan membantah, tapi setelah Aku menjawab itu, dia sependapat dengan apa yang Aku ucapkan.
“Benar, sahabat.”
Itulah awal kebersamaan kami dan mengakhiri hari ini dengan sebuah persahabatan. Ya, hanya sahabat tidak lebih.

***

Satu minggu telah berlalu, selama itupun Aku telah melewati hari-hari bersama sahabat baruku. Lucunya saat kebersamaan kami, Najmi dan Habi selalu berdebat mengenai hal yang benar-benar sepele. Seperti saat aku minta bantuan pada mereka untuk mengerjakan tugas, mereka bersikeras rebutan untuk mengerjakannya sendiri. Aku melihatnya hanya tertawa dan pada akhirnya harus Akulah yang menengahi. Walaupun hanya Aku dan Habi yang sering menghabiskan waktu akhir-akhir ini, itupun karena kami berada di sekolah yang sama. Dan terkadang hal itu membuat Najmi marah padaku, tapi karena itu juga membuat kami jadi semakin dekat dan berbagi perhatian. Sebenarnya Najmi adalah sahabat masa kecilku di Bandung. Dulunya kami begitu dekat dan sering kali kami menginap bersama di rumah Aku atau dia secara bergiliran. Orang tua kami pun menjadi saling mengenal dan berteman baik. Tapi sayangnya kebersamaan Aku dan Najmi harus terpisahkan, karena Najmi harus pindah ke Jakarta mengikuti orang tuanya. Aku marah, menangis, dan tidak mau makan apapun selama tiga hari. Semua itu wajar menurutku, karena pada saat itu Aku masih menginjak di bangku SD dan benar-benar masih polos untuk bisa mengerti keadaan seperti itu. Tapi, pada akhirnya Aku mengerti dan bisa menjalankan kehidupanku dengan baik. Lalu Aku bertekat akan menyusul ke tempat Najmi berada. Dan sekaranglah tepatnya Aku bisa bertemu kembali dengan Najmi, walaupun karena kepindahan pekerjaan orang tuaku. Setidaknya aku bahagia bisa bersama sahabat masa kecilku. Kemudian Aku bertemu dengan Habi dalam sebuah tabrakan yang tidak disengaja, di kelas yang sama, dan di meja yang sama. Sungguh pengalaman yang menyenangkan bisa bertemu sahabat lama dan mendapatkan sahabat baru.
Aku menurup buku harianku yang telah menjadi tempat untukku bercerita. Buku itu ku letakkan di tempat rahasia. Aku melangkahkan kaki ke luar kamar menuju dapur untuk mengambil minuman dingin di kulkas. Ketika tiba di dapur, Aku melihat Ibu sedang memasak sesuatu.
“Hmm… wanginya. Apa yang sedang Ibu buat? Wanginya seperti ikan,” tanyaku penasaran.
“Benar sayang, ibu sedang memasak ikan goreng. Hari ini ayahmu akan pulang cepat, jadi Ibu memasak lebih awal.”
“Oh… Tumben ayah akan pulang cepat, biasanya selalu sore.”
“Mmm… Entahlah, ayahmu tidak mengatakan apapun selain itu. Mungkin saja kerjaannya tidak terlalu banyak sayang.”
“Ya, benar.” Jawabku dengan senyuman.
“Sayang, siapa teman baru kamu itu? Ibu lupa namanya.”
“Oh, namanya Habi Bu. Kanapa?”
“Apa dia teman yang baik?”
“Menurutku dia orang yang baik, tentunya selama seminggu ini Aku mengenalnya.”
“Syukurlah Ibu senang kamu bisa mendapat teman yang baik. Awalnya Ibu khawatir kamu akan sulit menemukan teman yang baik di kota Jakarta ini.”
“Ibu jangan khawatir, dia bukan hanya teman saja melainkan sudah menjadi sahabatku dengan Najmi.” Ucapku meyakinkan.
“Benarkah? Ibu senang mendengarnya.”
“Mmm…” balasku tersenyum.
Setelah usainya perbincangan di antara kami, Aku langsung mengambil air minum di dalam kulkas dan menutupnya.
“Bu, ada yang bisa Aku bantu?”
“Ya, ada sayang. Tolong letakkan ikan ini di atas meja makan.”
“Baiklah.”
Akupun menerima ikan yang sudah berada di piring dan meletakkannya di atas meja makan yang berada di ruang makan, tepatnya di balik tembok dapur. Sepertinya ibu telah selesai memasaknya, terbukti dia telah datang ke tempatku berada dengan membawa tumis kangkung beserta sambal.
“Ibu, sudah selesai?”
“Sudah sayang.”
“Kalau begitu Aku masuk ke kamar dulu ya.”
“Ya, sayang. Nanti Ibu panggil jika ayahmu sudah datang.”
“Oke.”
Aku berjalan ke kamar yang berada di samping ruang tamu. Aku rebahkan tubuhku di atas kasur setelah tiba di kamar. Tak lama mimpi datang menyambutku untuk bergabung.

***

Di sebuah kamar yang terbilang sangat luas jika ditempati oleh satu orang penghuni, dari designnya sudah sangat jelas bahwa kamar itu adalah milik seorang pemuda. Pemuda yang bernama Najmi dan tidak lama ini telah menjalani ikatan sebagai sahabat bagi Zahra dan Habi. Walaupun pada kenyataannya di balik ikatan itu terdapat perasaan yang terpendam dari dua pemuda itu terhadap Zahra. Perasaan yang tidak seharusnya mereka miliki dan juga simpan. Karena jika perasaan itu mereka ungkapkan, akan terjadi keretakan dari ikatan tersebut dan hal itu juga bisa membuat Zahra bersedih.
“Aku heran, kenapa Zahra begitu cepat mendapat teman baru di Sekolahnya. Dan lagi dia seorang pria, seharusnya akulah satu-satunya sahabat pria yang hanya dia miliki. Tapi dalam satu hari yang tidak aku ketahui, Zahra langsung begitu akrab dengannya. Membuatku iri saja.”
Najmi terus saja meracau mengenai Habi teman baru Zahra, bahkan sekarang telah menjadi sahabat baru baginya dan Zahra. Najmi hanya merasa iri dengan kehadiran Habi yang begitu cepatnya dapat diterima Zahra, sedangkan dia bersahabat sudah lama. Kalau saja dia bukan sahabat masa kecil Zahra, belum tentu dia dapat menjadi sahabatnya dan bahkan mungkin bertemu pun tidak. Dan kalau bukan karena keinginan Zahra pasti Najmi tidak mungkin dapat menerima dengan baik persahabatan yang konyol ini.
“Ini konyol, yang benar saja aku harus menerima kehadiran orang asing di kehidupanku dengan waktu singkat. Haaah… Zahra, sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan. Apa kamu belum cukup mempunyai satu sahabat saja yaitu aku, sahabat dari masa kecilmu dan begitu berarti bagimu. Dan tentu kita telah melewati hal-hal yang menyenangkan berdua, walaupun kita harus terpisah karena perpindahan orang tuaku. Tapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk aku dapat selalu membahagiakanmu.”
Tidak hentinya Najmi merasa kesal mengenai kehadiran Habi sampai terdengar suara handphone berdering di seluruh ruangan kamar. Hal itu menandakan bahwa ada sebuah panggilan masuk. Untuk memastikan siapa yang menelponnya malam hari sehingga mengganggunya.
“Eh, Zahra.”
Senyumnya merekah setelah mengetahui siapa yang menelepon dan tidak menunggu lama Najmi segera menjawab panggilan itu.
“Hallo!”
“Najmi, kenapa lama sekali kamu lama sekali menjawab panggilan dariku?”
“Haha… Maaf. Tadi aku sedikit terhanyut dengan duniaku sendiri.”
“Huh, aku heran sejak kapan kamu jadi suka melamun begitu?”
“Sejak kamu hadir kembali di kehidupanku.” Sengaja membuat nada yang serius.
“Heeii… Sejak kapan kamu suka gombal?” Ucapnya sedikit kesal.
“Sejak pikiranku dipenuhi oleh kamu.”
Najmi terus menyerang dengan gombalan yang sengaja untuk ngerjain Zahra. Terkadang Najmi jadi orang yang paling jail jika hanya berdua dengan Zahra. Pikirnya lucu jika melihat ekspresi yang tersirat di wajahnya, tapi sayang dia tidak melihatnya secara langsung dan hal itu membuatnya tertawa dalam diam.
“Aku putuskan sambungannya. Daa-“ belum sempat menyelesaikan ucapannya langsung saja disela oleh Najmi.
“Tunggu dulu. Oh, ayolah aku hanya bergurau sobat. Hahaha… Jangan marah!”
“Habisnya, kamu jadi menyebalkan begitu. Dan aku nelpon bukan untuk mendengar gombalan darimu.”
“Hahaha… Baiklah, baiklah, aku minta maaf Zahra. Tahu tidak? Kamu yang sedang ngambek sangat terlihat lucu.”
Helaan napas panjang terdengara dari handphone yang digenggam oleh Najmi. Sepertinya Zahra mulai merasa jengah mendengar candaan yang telah dilontarkan oleh sahabatnya ini, tapi sebenarnya senyum tidak lepas dari wajahnya.
“Ya, ya, ya, kita sudahi saja candaan ini. Langsung saja pada inti pembicaraan, sebenarnya aku menghubungimu karena ingin mengundangmu untuk hadir di event pagelaran seni di sekolahku yang akan diselenggarakan hari minggu besok yang eventnya dibuka untuk umum. Bagaimana?”
Mendengar hal itu Najmi diam dan berpikir sejenak. Baiknya dia harus menerima undangan itu atau lebih baik menolak saja. Jika dia menerima pasti beresiko bertemu dengan sahabat barunya Zahra dan melihat kedekatan mereka yang akan membuatnya kesal. Tapi jika menolak maka Najmi akan menyia-nyiakan kesempatan ini karena beberapa hari ke depan dia akan disibukkan dengan persiapan olimpiade matematikanya, sudah pasti mereka sulit untuk bertemu. Setelah berpikir cukup lama akhirnya dia dapat keputusan yaitu menerima undangan dari Zahra.
“Maaf menunggu lama. Tadi aku tersesat dialam yang bernama berpikir.”
“Ya ampun, kamu ini ada-ada saja. Lalu keputusannya bagaimana?”
“Baiklah, nanti aku akan mengusahakan datang ke sekolahmu. Ya, anggap saja refreshing sebelum kesibukan aku mempersiapkan olimpiade matematika.”
“Apa olimpiade? Kenapa kamu tidak menceritakan apapun kepadaku?”
“Maaf, aku hanya belum sempat berbicara. Jadi mungkin nanti saat kita bertemu di sekolahmu aku akan menceritakannya.”
“Oke! Akan aku tagih nanti. Kalau begitu sudah ya. Bye...”
“Mmm…Bye…”
Ucapan itu mengakhiri panggilan mereka. Dan dia melihat waktu yang ditampilkan di layar handphone yang ternyata sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
“Sebaiknya aku cepat tidur agar besok tubuhku terasa fit.”
Najmi pun segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur yang cukup besar dan sangat nyaman. Dia melihat ke langit-langit kamar sambil menarik selimut dan pelan-pelan menutup kedua matanya, dunia mimpi akan menyambutnya.



Bersambung... :D 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar